JAKARTA, Cinta-news.com – Musibah kebakaran dahsyat meluluhlantakkan kawasan pemukiman padat di Jalan Batu Ceper 9, RT 009 RW 01, Kelurahan Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin (31/8/2026) siang yang mengubah riwayat hidup ratusan keluarga dalam sekejap.
Peristiwa mengenaskan yang pertama kali dilaporkan terjadi pada pukul 13.40 WIB itu berhasil menghanguskan area seluas kurang lebih 800 meter persegi dalam hitungan jam saja. Betapa mengerikannya, sebanyak 114 rumah kini tinggal puing-puing tak bersisa, sementara 310 keluarga atau sekitar 880 orang harus kehilangan tempat berlindung dan memulai hidup dari nol.
Berawal dari Ledakan di Indekos yang Mengguncang
Berdasarkan kesaksian warga yang masih membekas di ingatan, kemunculan api diduga kuat dipicu oleh korsleting listrik dari sebuah bangunan indekos berlantai dua di Jalan Batu Ceper 9. Dari sinilah segalanya bermula dan berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan sebelumnya.
Yang membuat situasi semakin mengerikan, bangunan pemukiman di kawasan tersebut didominasi oleh material semipermanen seperti tripleks yang dengan cepat menjadi santapan empuk bagi si jago merah. Akibatnya, api merembet dengan kecepatan yang sulit dibendung oleh siapa pun yang mencoba menghadangnya.
“Pertama kali terdengar bunyi ngejepret dari lantai atas. Setelah itu, seseorang berusaha menaikkan saklar listrik, namun tanpa disadari bahwa di atas sana sudah muncul percikan api. Begitu saklar dinaikkan, ledakan keras langsung terjadi,” ungkap Deka (40), salah satu warga yang kini rumahnya hangus tak tersisa.
Menurut penuturan Deka yang masih terdengar getir, kamar di lantai dua yang menjadi sumber ledakan itu dalam kondisi kosong karena penghuninya tengah bekerja. Kejadian ini semakin rumit ketika tetangga yang hendak menyelamatkan diri justru merasakan sengatan listrik saat memegang pintu.
“Adik saya kemudian naik ke atas dan melihat kepulan asap tebal sudah memenuhi kamar kosong tersebut,” tambah Deka dengan nada masih penuh ketakutan.
Kendala Gang Sempit Memperlambat Penanganan
Saat petugas berusaha menjinakkan api, mereka menghadapi berbagai tantangan berat di lapangan yang membuat upaya pemadaman semakin sulit dan memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat pun langsung mengerahkan kekuatan besar dengan 27 unit armada dan 135 personel untuk mengatasi musibah ini. Namun demikian, kondisi medan yang sangat sulit membuat mereka harus bekerja ekstra keras di tengah kepulan asap dan panas yang menyengat.
“Kendala utama yang kami hadapi adalah kepadatan hunian yang luar biasa sehingga perambatan api terjadi sangat cepat. Ketika kami tiba di lokasi, api sudah membesar dan merembet ke mana-mana,” terang Syarifudin, Kasudin Gulkarmat Jakarta Pusat, dengan nada serius.
Belum cukup sampai di situ, jauhnya sumber air dari lokasi kejadian memaksa petugas menggelar selang dengan panjang yang luar biasa, membentang dari ujung gang hingga masuk ke dalam permukiman yang padat.
Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Mirzal Maulana yang turun langsung mengerahkan 100 personelnya pun mengakui sulitnya akses di tempat kejadian. “Kami mendapati kawasan ini terdiri dari Gang 9, Gang 8, dan Gang 7, di mana kondisi Gang 9 dan Gang 8 tergolong sangat parah karena medannya yang sempit,” ucap Mirzal dengan ekspresi prihatin.
Dua Petugas Tumbang di Tengah Tugas
Meskipun api berhasil dilokalisasi pada pukul 16.17 WIB dan beruntung tidak ada korban jiwa dari warga sipil, pekatnya asap ternyata membuat dua petugas pemadam kebakaran harus tumbang di tengah medan yang berat.
Perwira Piket Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat, Agung Nugroho, membenarkan kabar tersebut dengan nada haru. “Dua orang anggota kami harus dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan dan menghirup asap tebal saat berjuang memadamkan api,” ujar Agung di lokasi kejadian, Senin (31/8/2026).
Kedua petugas pemberani itu pun segera dilarikan ke RSUD Tarakan menggunakan ambulans PMI untuk mendapatkan perawatan intensif. Perjuangan mereka menjadi pengingat betapa beratnya tugas para pahlawan pemadam kebakaran dalam melindungi masyarakat.
Api Merambat ke Gedung Terbengkalai
Dalam situasi yang sudah pelik, hembusan angin kencang pada siang hari justru memunculkan titik api baru yang menambah rumit upaya pemadaman. Hawa panas dan abu yang terbawa angin ternyata memicu penyalaan api di tumpukan kayu pada lantai 13 sebuah gedung kosong terbengkalai yang berjarak sekitar 300 meter dari pusat kebakaran.
Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara, mengakui bahwa operasi pemadaman di gedung mangkrak tersebut sangat sulit dilakukan karena ketiadaan tangga akses yang memadai. Bayu menjelaskan bahwa timnya sudah berupaya menggunakan Bronto atau skylift, namun sayangnya alat canggih itu pun tidak bisa masuk ke area tersebut.
“Kami terpaksa melakukan pemadaman secara manual menggunakan tangga yang ada. Seluruh anggota bahu-membahu berusaha memadamkan api di lantai 13 tersebut,” jelas Bayu dengan tekad yang kuat.
Bayu pun menegaskan bahwa pemadaman di lantai 13 harus dituntaskan malam itu juga untuk menghindari bara api kembali terbang ke arah permukiman warga jika kondisi angin memburuk. Ini menjadi prioritas utama demi keselamatan warga yang sudah kehilangan tempat tinggal.
Pengungsian Gelap Gulita
Hingga Senin malam, kawasan permukiman Jalan Batu Ceper masih diselimuti kegelapan total imbas pemutusan aliran listrik demi keselamatan petugas yang melakukan proses overhaul atau pembongkaran puing-puing bangunan.
Penerangan hanya mengandalkan lampu tembak darurat dan pendaran lampu rotator dari armada pemadam yang menciptakan suasana mencekam namun penuh harapan di tengah musibah.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat bergerak cepat menyiapkan empat titik posko pengungsian, termasuk di pos RW 01, lapangan terbuka, dan sarana parkir gedung terdekat. Para pengungsi mulai berdatangan mencari perlindungan setelah kehilangan segalanya.
“Kami langsung melakukan evakuasi dengan menyiapkan tenda pengungsian, sarana pendukung seperti toilet, air bersih, serta kebutuhan makan minum bagi para penyintas yang terdampak,” ungkap Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, dengan nada penuh empati.
Sementara itu, Camat Gambir, Muhammad Iqbal, memastikan bahwa kebutuhan kelompok rentan seperti balita dan lansia tengah dalam proses inventarisasi. Setiap individu mendapat perhatian khusus dalam situasi darurat ini.
Terkait perbaikan rumah warga yang ludes tak bersisa, Arifin menyebutkan bahwa pemerintah saat ini berfokus penuh pada mitigasi kedaruratan terlebih dahulu. “Intinya kita mitigasi untuk dampak hari ini, kemudian baru menyiapkan hunian sementara dan hal-hal lainnya. Untuk urusan rumah dan sebagainya akan kita pikirkan kemudian,” tutup Arifin.
Adapun penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab pasti kebakaran masih menunggu tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri yang akan menyisir lokasi setelah seluruh titik api benar-benar padam. Kejelasan mengenai asal-usul musibah ini sangat dinantikan oleh ratusan korban yang kehilangan tempat tinggal.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
