BATAM, Cinta-news.com – Pasca insiden mengerikan yang mencemari perairan Dangas, Sekupang, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam langsung bergerak cepat. Dengan tegas, pihak KSOP secara resmi mengeluarkan panggilan paksa! Mereka memanggil nakhoda dan pemilik kapal LCT Mutiara Garlib Samudra tanpa kompromi. Bahkan, pemilik muatan limbah juga masuk dalam daftar panggilan. Kepala KSOP Khusus Batam, Muhammad Takwim, sendiri yang mengonfirmasi langkah tegas ini. Saat diwawancarai via telepon pada Kamis (5/2/2026), beliau menegaskan, “Kami akan segera memanggil nakhoda, pemilik kapal, serta pemilik muatan untuk kami mintai keterangan lengkap.” Intinya, seluruh pihak yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkan peristiwa ini.
Lantas, apa yang mendasari panggilan mendesak ini? Ternyata, kronologi kejadiannya sungguh memilukan. Mari kita runut ke belakang, tepatnya pada Kamis (29/1/2026) malam. Sekitar pukul 20.53 WIB, Kapal Patroli KNP 376 pertama kali melaporkan kejadian darurat ini. Awak kapal patroli menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Mereka menemukan LCT Mutiara Garlib Samudra dalam kondisi sangat mengkhawatirkan. Kapal itu terlihat miring ekstrem, bahkan mencapai sudut 50 derajat! Bayangkan, kemiringan sebesar itu jelas memicu konsekuensi serius.
Kondisi tersebut langsung memicu malapetaka lingkungan. Kemiringan kapal yang parah menyebabkan muatan limbah berbahaya tumpah tak terkendali. Lebih detail, limbah B3 berupa oil water dan slag oil membanjiri laut biru Batam. Tim lapangan kemudian melakukan pendataan awal. Hasilnya, mereka memperkirakan sekitar 100 jumbo bag limbah padat hanyut terbawa arus laut. Beberapa tangki kapal yang bocor juga memperparah keadaan dengan menambah volume tumpahan cairan beracun. Singkatnya, perairan yang semula jernih berubah menjadi arena bencana ekologis skala menengah.
Namun, dari mana sebenarnya limbah mematikan ini berasal? Pemeriksaan sementara berhasil melacak sumbernya. Ternyata, limbah B3 tersebut berasal dari proses pemindahan muatan dari kapal tanker Navy Universe. Meski begitu, Takwim menegaskan bahwa seluruh aktivitas pemindahan limbah ini telah memiliki izin resmi. Beliau menjelaskan, “Seluruh aktivitas tersebut memiliki izin, dan kapal LCT Mutiara Garlib Samudra memang kami khususkan untuk mengangkut limbah B3.” Beliau juga menambahkan, lokasi kejadian tidak berada di alur pelayaran utama sehingga tidak mengganggu lalu lintas kapal lain. Akan tetapi, fakta ini sama sekali tidak mengurangi urgensi penanganan pencemaran.
Menyikapi keadaan darurat ini, tim gabungan dari berbagai instansi segera mengerahkan upaya mitigasi maksimal. Mereka fokus pada penanganan terpadu untuk melokalisir penyebaran tumpahan. Sejumlah langkah konkret segera mereka implementasikan. Pertama, tim memasang oil boom atau pelampung penahan tumpahan minyak sepanjang 180 meter di sekitar zona pencemaran. Kemudian, mereka menyedot sisa muatan cair dari tangki kapal yang rusak. Selain itu, mereka juga mengalihkan muatan ke tongkang cadangan untuk mengurangi tekanan pada kapal yang kandas.
Tim tidak hanya menangani limbah cair. Mereka juga bekerja keras mengumpulkan material limbah padat yang tercecer. Mereka berusaha mengumpulkan kembali ratusan jumbo bag yang hanyut itu. Selanjutnya, mereka akan membawa seluruh limbah padat yang terkumpul ke fasilitas pengelolaan limbah B3 yang berwenang. Usaha keras tim akhirnya membuahkan hasil. Setelah mengosongkan muatan, mereka berhasil menstabilkan posisi LCT Mutiara Garlib Samudra sehingga kapal dapat kembali mengapung normal. Kemudian, pihak berwenang menarik kapal tersebut ke galangan milik PT Trigger Trans International. Di sana, kapal akan menjalani proses perbaikan sekaligus pemeriksaan mendalam untuk mengungkap penyebab teknis kekandasannya.
Meski demikian, proses hukum dan investigasi tetap terus berjalan. Takwim menegaskan komitmen KSOP Batam untuk mengusut tuntas akar masalah. “Meski dugaan awal mengarah pada faktor cuaca buruk, kami memastikan proses pemeriksaan tetap berlanjut secara komprehensif,” pungkasnya dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini sekaligus menegaskan prinsip kehati-hatian dan profesionalisme pihak berwenang. Mereka tidak akan terburu-buru menyimpulkan sebab insiden sebelum pemeriksaan mendalam selesai. Pada akhirnya, insiden pilu ini mengingatkan semua pihak tentang betapa krusialnya prosedur keselamatan dalam pengangkutan limbah berbahaya. Laut Batam yang indah membutuhkan komitmen bersama untuk kita jaga kelestariannya dari ancaman pencemaran semacam ini.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
