Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kabupaten Bandung Terima Kucuran Anggaran Rp 334 M dari Pusat untuk Perbaikan Irigasi

BANDUNG, Cinta-news.com – Pemerintah pusat akhirnya mengucurkan dana segar mencapai Rp 334 miliar untuk menangani dan mengelola Daerah Irigasi (DI) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada anggaran tahun 2026. Tentu saja, langkah berani ini menjadi bagian dari kesiapan serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung dalam mengantisipasi musim kemarau yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bakal berlangsung lebih panjang serta lebih kering dari biasanya tahun ini.

Selanjutnya, Bupati Bandung, Dadang Supriatna, mengungkapkan bahwa awalnya pihak Pemkab hanya mengajukan usulan anggaran sebesar Rp 947 miliar ke pemerintah pusat. Kemudian, anggaran tersebut rencananya akan mereka alokasikan untuk memperbaiki, menormalisasi saluran, hingga membangun infrastruktur di 546 titik Daerah Irigasi yang tersebar luas di seluruh wilayah Kabupaten Bandung.

“Alhamdulillah, pemerintah pusat akhirnya menyetujui Rp 334 miliar pada 2026. Sisanya akan mereka berikan pada tahun depan,” ujar Dadang dengan penuh syukur saat awak media temui seusai rapat koordinasi khusus lintas sektor di Gedung Moh Toha, Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung, Selasa (9/6/2026).

Lebih lanjut, Dadang menegaskan bahwa perbaikan ratusan titik irigasi ini bukan hanya sekadar persiapan menghadapi kemarau ekstrem. Sebaliknya, langkah proaktif ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Pemkab Bandung dalam mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terutama untuk mencapai target swasembada pangan nasional.

Tak hanya itu, pihaknya pun optimistis bahwa kucuran dana ratusan miliar tersebut akan menjadi stimulus penting bagi Kabupaten Bandung. Dengan demikian, daerah ini bisa mempertahankan sekaligus meningkatkan statusnya sebagai salah satu lumbung beras menuju swasembada beras nasional.

Bukan Cuma Normalisasi! Ini Strategi Jitu Dadang Siagakan Mitigasi Kekeringan

Di samping melakukan normalisasi dan perbaikan fisik irigasi, Dadang mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi lain untuk menekan risiko merosotnya produksi pangan akibat kekeringan. Menurutnya, penanganan ini tidak bisa berjalan sendiri; justru harus melibatkan kolaborasi aktif lintas sektor agar hasilnya maksimal.

Sementara itu, ketika dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, menjelaskan bahwa dirinya telah menerima instruksi langsung dari Bupati untuk segera menyusun skala prioritas pemanfaatan anggaran Rp 334 miliar tersebut. Untuk pelaksanaannya, Distan akan berbagi peran secara intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung. Dengan begitu, pengerjaannya bisa tepat sasaran dan sesuai dengan kewenangan masing-masing institusi.

Ina pun memaparkan bahwa meskipun anggaran yang turun baru sepertiga dari total usulan, penanganan yang dilakukan dipastikan bakal menyentuh jaringan irigasi dari hulu hingga ke hilir. Secara rinci, jaringan irigasi primer dan sekunder akan digarap oleh Dinas PUTR, sementara Distan fokus pada jaringan irigasi tersier yang bersentuhan langsung dengan lahan sawah milik petani. “Selain itu, ada pula penanganan yang kewenangannya berada di provinsi dan pusat,” tutur Ina.

Alert! Pompa Air dan Alat Pertanian Sudah Disiagakan di Lapangan

Sebagai langkah konkret menghadapi ancaman kekeringan di sektor hilir, Distan Kabupaten Bandung kini mulai menyiagakan alat dan mesin pertanian (alsintan), utamanya pompa air, untuk membantu para petani yang mengalami kesulitan mengairi lahannya. Ina menyebutkan, armada alsintan ini disiagakan di Brigade Alsintan milik Distan serta di masing-masing Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) yang para kelompok tani (poktan) maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) kelola di tingkat desa. “Petani dapat memanfaatkan alsintan di UPJA,” tambah Ina.

Berdasarkan data Distan, dari total 28.000 hektare lahan sawah yang ada di Kabupaten Bandung, mayoritas atau sekitar 20.000 hektare di antaranya merupakan sawah irigasi teknis. Meskipun memiliki pasokan air yang relatif lebih stabil, Ina tetap meminta jajarannya dan para petani tidak boleh lengah. Oleh karena itu, pihaknya mengaku telah melayangkan surat edaran resmi kepada para petani, petugas penyuluh lapangan, hingga camat di seluruh wilayah Kabupaten Bandung untuk memantau fluktuasi ketersediaan air secara berkala.

Khusus bagi para petani yang menggarap lahan sawah tadah hujan—yang paling rentan terdampak kekeringan—Distan memberikan rekomendasi khusus agar mereka tidak memaksakan diri menanam padi di musim kemarau ini. Sebagai gantinya, mereka disarankan beralih ke tanaman yang lebih hemat air.

“Kami pun sudah menyampaikan imbauan melalui surat edaran kepada para petani, petugas lapangan, dan camat selaku pembina wilayah untuk memantau ketersediaan air secara berkala. Bagi petani atau penggarap di sawah tadah hujan, kami mengimbau untuk beralih sementara waktu ke tanaman sayuran yang kebutuhan airnya lebih sedikit, seperti caisim atau sosin, kangkung, dan bayam,” pungkas Ina dengan tegas.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version