SIAK, Cinta-news.com – Suara menggelegar membelah senyapnya Senin (5/1/2026) di Pelabuhan Tanjung Buton, Siak! Tepat pukul tiga sore, jembatan penghubung dermaga atau trestle tiba-tiba ambruk. Jembatan vital untuk bongkar muat itu runtuh menuju laut. Sebuah mobil Avanza putih yang sedang terparkir pun ikut terseret ke dalam air. Kejadian ini langsung menciptakan kepanikan.
Mobil Avanza itu sempat terseret arus deras. Petugas kemudian berhasil mengevakuasinya. Insiden ini tidak hanya menyebabkan kerugian material. Sejumlah pekerja yang terjebak di ujung dermaga juga akhirnya harus dievakuasi menggunakan sampan. Situasi mencekam itu berhasil diatasi tanpa korban jiwa.
Lalu, apa pemicu insiden ini? Direktur PT KITB, M Soeharto, memberikan penjelasan. Menurutnya, jembatan itu ambruk sesaat setelah aktivitas bongkar muat cangkang selesai. “Pelabuhan ini merupakan simpul logistik penting. Ia melayani angkutan penumpang hingga ekspor ke negara tetangga,” jelas Soeharto melalui keterangan tertulis, Selasa (6/1/2026).
Mendengar kabar tersebut, Bupati Siak, Afni Zulkifli, langsung bertindak. Ia turun ke lokasi pada Senin malam untuk memastikan keamanan. Seluruh pekerja dan warga dikonfirmasi berada dalam keadaan selamat. “Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” ungkap Afni kepada awak media di tempat kejadian.
Namun, Bupati Afni tidak berhenti di situ. Ia mendorong perbaikan infrastruktur segera. Pelabuhan Tanjung Buton adalah urat nadi ekonomi masyarakat. Fungsinya untuk pengiriman logistik dan ekspor tidak boleh terhenti lama.
Bupati Afni juga menyinggung soal evaluasi pengelolaan. Saat ini, pelabuhan dikelola KSOP di bawah Kementerian Perhubungan. Sebelumnya, BUMD PT Samudera Siak yang mengoperasikannya. Peralihan pengelolaan ini menjadi bahan evaluasi serius sejak Afni menjabat.
Ia menyoroti kondisi dermaga yang memprihatinkan. Menurutnya, ini adalah dampak dari kelalaian manajemen masa lalu. “Ini pekerjaan berat dan butuh dukungan semua pihak. Kerusakan ini diduga berasal dari kelalaian bertahun-tahun lalu,” tegas Afni.
Pemkab Siak telah mengambil langkah korektif. Melalui RUPS Agustus 2025, mereka merombak total direksi BUMD. Kini, pemerintah daerah berupaya mengambil alih kembali pengelolaan pelabuhan. Tujuannya untuk meningkatkan PAD dan membuka lapangan kerja.
Intinya, insiden ini menjadi alarm keras. Perbaikan tata kelola aset strategis harus menjadi prioritas. Masyarakat Siak menunggu aksi nyata, karena pelabuhan adalah jantung ekonomi mereka yang tidak boleh berhenti berdetak.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
