Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Jelang Natal dan Tahun Baru, Sumenep Hadapi Kelangkaan BBM Solar

Cinta-news.com – Menjelang pesta perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), kabar buruk justru menerpa para pengendara di Sumenep. Pasalnya, ketersediaan BBM jenis solar tiba-tiba menjadi sangat langka. Kondisi ini langsung memicu antrean kendaraan yang meledak di berbagai SPBU, dengan situasi paling parah terjadi setiap malam. Sebagai bukti nyata, pantauan di SPBU Desa Paberasan pada Senin malam (22/12/2025) menunjukkan pemandangan luar biasa: antrean kendaraan roda empat mengular begitu panjang hingga memadati badan jalan raya. Mayoritas kendaraan yang terjebak antrean ini merupakan truk dan mobil angkutan barang yang sepenuhnya bergantung pada solar untuk operasional harian mereka.

Di tengah kemelut ini, suara keluhan dari para sopir pun bergema keras. Imam, seorang sopir truk, mengungkapkan kerepotannya yang telah berlangsung berhari-hari. “Solar ini mulai susah sejak beberapa hari lalu,” keluhnya. Informasi yang beredar di kalangan sopir menyebutkan aksi borong solar oleh warga dalam jumlah besarlah yang memicu keadaan ini, sehingga stok di SPBU sumenep langsung ludes dalam sekejap. “Begitu ada solar, antreannya langsung panjang. Kadang harus nunggu sampai malam,” tambah Imam. Akibatnya, jadwal pengangkutan barangnya berantakan total. “Pernah saya baru dapat solar malam hari, akhirnya barang baru bisa diangkut besok,” ujarnya. Pada intinya, kelangkaan ini secara langsung mengacaukan ritme kerja dan logistik mereka.

Tidak hanya Imam, Malik, seorang pemilik mobil diesel yang juga terjebak antrean sama, melontarkan keluhan serupa. Ia menegaskan bahwa fenomena antrean panjang ini sudah menjadi pemandangan rutin. “Belakangan ini hampir tiap mau beli solar pasti antre lama,” tuturnya. Lebih lanjut, masalah ini ternyata tidak terisolasi di satu lokasi. Faktanya, antrean panjang yang sama juga melanda SPBU Desa Kolor dan SPBU Desa Gedungan. Dengan kata lain, krisis mini solar ini secara luas merata di wilayah Sumenep dan meresahkan banyak kalangan.

Menanggapi gejolak ini, Area Manager Communication Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, akhirnya angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa Pertamina sebenarnya telah mengantisipasi dengan menyesuaikan dan menambah kuota solar di tiap SPBU untuk menyambut Nataru. Namun, di sisi lain, ia menegaskan sebuah aturan yang sering kali menimbulkan salah paham. “Kalau kuota sudah habis, kami tidak diizinkan mendropping tambahan lagi, kecuali ada arahan dari pemerintah,” tegasnya pada Selasa (23/12/2025). Pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa stok ada tetapi tidak bisa didistribusikan?

Pada titik inilah, Ahad berusaha meluruskan kesalahpahaman publik. Ia menekankan bahwa banyak orang masih menyamakan ‘kuota’ dengan ‘stok’. “Ini perlu diluruskan, kuota itu bukan stok. Barangnya ada di terminal, tetapi penyaluran Biosolar Bersubsidi dilakukan sesuai jumlah kuota yang ditugaskan,” jelasnya. Jadi, meskipun solar tersedia secara fisik di terminal, penyalurannya ke SPBU harus tetap mengikuti pagu kuota yang pemerintah tetapkan. Akhirnya, ketika kuota harian sebuah SPBU habis, pompa solar terpaksa tutup dan antrean panjang pun tak terhindarkan. Polemik ini pun menyisakan pertanyaan mendasar: apakah kebijakan kuota yang kaku ini masih sesuai untuk menghadapi lonjakan kebutuhan di momen-momen tertentu seperti Nataru?

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *