Cinta-news.com – Matahari baru saja menyapa pesisir, ketika deru keras mesin perahu motor langsung mengejutkan kawanan burung kuntul putih hingga mereka terbang berhamburan membelah keheningan sungai muara. Sayangnya, pemandangan hijau rimbunnya pepohonan mangrove yang berjejer rapi di sepanjang pesisir ternyata menyembunyikan rahasia kelam, karena tumpukan limbah plastik terjerat sangat kuat pada ranting dan akar-akar benteng hijau ini.
Begitu laju perahu berhenti dan merapat mulus di pinggiran, kami langsung melanjutkan perjalanan panjang dengan melangkahkan kaki menerobos pematang tambak demi menjangkau benteng pertahanan alam terakhir di kawasan pesisir timur Surabaya ini.
Langkah kaki kami pun terasa kian berat sebab pijakan tanah liat yang semula berlumpur tebal mendadak berubah total menjadi hamparan gundukan sampah plastik tatkala kami melangkah semakin mendekati bibir pantai.
Di titik terdepan pesisir ini, sisa-sisa ekosistem mangrove yang masih bertahan benar-benar menghadapi gempuran dahsyat sampah kiriman yang datang tiada henti, baik dari sudut-sudut pusat kota maupun dari laut lepas lewat hempasan ombak.
Bahkan, kondisi aliran anak sungai di kawasan ini sudah berubah drastis bagaikan lokasi pembuangan akhir sampah, sampai-sampai kedua kaki saya sendiri sempat terperosok dalam-dalam hingga separuh tubuh tersedot ke dalam endapan limbah busuk tersebut.
Laju abrasi pantai yang makin menggila saban tahun pada akhirnya memicu kehancuran kawasan pesisir, sementara gempuran limbah ini malah makin mempersulit proses pemulihan hutan mangrove. Padahal, keberadaan benteng hijau ini memegang peranan hidup-mati, sebab tanpa kehadiran mereka, kawasan tambak warga di garis belakang pasti tidak bakal mampu bertahan dari hantaman gelombang laut yang ganas.
Krisis Ekologi dan Matinya Ribuan Bibit Mangrove
Guna mengatasi krisis ekologi ini, beberapa kampus ternama kemudian menyatukan kekuatan pada momentum Hari Mangrove tanggal 26 Juli 2026 dengan menanam sekitar 7.600 bibit spesies Rhizophora mucronata agar varietas tanaman pantai ini tidak lagi didominasi oleh pohon api-api saja.
Namun demikian, parahnya kerusakan lingkungan serta pekatnya lumpur beracun yang sudah bercampur aduk dengan limbah di lokasi penanaman akhirnya memicu petaka baru. Alhasil, sekitar 2.000 bibit mangrove muda tersebut dilaporkan mati bergelimpangan hanya dalam durasi kurang dari dua bulan saja.
Sementara itu, Area Program Manager Simokerto Wahana Visi Indonesia, Charles Frans, membeberkan betapa rumitnya membebaskan lokasi restorasi tersebut dari cengkeraman limbah, lantaran posisinya terisolasi total dari jalur air yang bisa dilewati oleh perahu penyelamat.
Padahal, aksi pembersihan lingkungan pernah mereka gelar secara besar-besaran saat peringatan Hari Mangrove tanggal 26 Juli 2025 lalu, meskipun kegiatan tersebut cuma sanggup menjangkau area-area yang memiliki akses perahu saja.
“Hasil dari aksi pembersihan waktu itu bahkan berhasil mengangkut sekitar empat truk penuh sampah basah,” ungkap Charles saat memberikan keterangannya pada Selasa (29/9/2026).
Selain menghadapi tekanan krisis lingkungan, langkah para relawan dalam memperluas garis pertahanan sabuk hijau ini juga membentur tembok tebal sengketa lahan, sebab beberapa titik di kawasan pesisir rupanya sudah dikuasai dan berstatus milik perusahaan swasta.
Siasat Tambak Silvofishery dan Diversifikasi Ekonomi
Tidak jauh dari lokasi tersebut, seorang petambak lokal bernama Solikhan berdiri tegap di atas pematang sembari melemparkan pandangan tajamnya ke arah deretan bibit mangrove berusia muda yang tumbuh subur di bagian tengah kolam tambaknya.
Ia mengaku sedang merancang skema budi daya ramah lingkungan melalui model empang parit untuk menyelamatkan tambak miliknya yang berada di garis terdepan ancaman abrasi.
Demi memelihara kesegaran air tambak, Solikhan secara cerdik memadukan sistem penyaringan alami dari tanaman mangrove dengan memasang saringan arang khusus tepat di pintu masuk air. Di samping itu, ia juga rutin menyebarkan bakteri baik Bacillus guna membasmi kuman beracun akibat paparan endapan limbah.
“Saya menanam mangrove di tengah kolam ini sebagai penyaring alami air, sedangkan barisan mangrove yang mengelilingi tepi tambak ini berfungsi memperkuat tanggul dari benturan ombak,” jelas Solikhan penuh optimisme.
Sayangnya, aliran air dari sungai menuju muara masih terus membawa racun limbah buangan warga dari pusat kota. Maka dari itu, jika kondisi air sungai mulai memburuk, Solikhan harus mengambil tindakan cepat dengan mengunci rapat pintu air agar pasokan air di dalam tambaknya tetap terisolasi aman.
Melalui kecermatannya tersebut, Solikhan mampu memetik keuntungan melimpah dari hasil panen ikan bandeng serta udang kualitas ekspor. Lebih dari itu, ia juga mendapat pemasukan ekstra dari udang liar yang terbawa arus pasang surut masuk ke dalam tambaknya, dengan hasil tangkapan fantastis mencapai 14 kilogram sekali panen.
Oleh sebab itu, mengingat proses tumbuh kembang mangrove butuh waktu sekitar 4 hingga 5 tahun agar bisa berfungsi maksimal, lembaga WVI terus mendampingi warga untuk memutar otak lewat diversifikasi usaha beternak unggas di area sekitar tambak, kendati mereka harus ekstra waspada menghalau serangan monyet liar yang gemar mencuri telur.
Langkah unik ini sengaja mereka pilih karena kotoran unggas bisa langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang menyuburkan tanah sekitar, sekaligus menghentikan kebiasaan lama warga melepaskan hewan kambing yang sering merusak dan memakan daun bibit mangrove muda.
Namun di sisi lain, ancaman baru muncul dari lonjakan kadar garam air tambak yang menembus angka 40, padahal ambang batas normalnya cuma berkisar di angka 33 saja. Menurut penuturan Charles, kondisi air yang kelewat asin selama kemarau panjang ini sangat tidak ideal bagi fase awal pertumbuhan tanaman mangrove.
Dampak buruk dari tingginya kadar garam ini membuat akar bibit mangrove yang masih sangat halus gagal menyerap nutrisi penting dari dalam tanah.
Akibat penguapan air yang sangat cepat dipicu sengatan panas, endapan garam tebal akhirnya menimbun substrat tanah dan membunuh bibit baru yang baru saja ditanam warga. Uniknya, di tengah sengatan kemarau ini, benih mangrove alami justru berguguran sangat melimpah dari pohon induknya.
Mendesaknya Aksi Nasional dan Edukasi Lingkungan
Di tempat terpisah, Ketua Forum Anak setempat bernama Tristan menegaskan bahwa masyarakat harus segera disadarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian benteng hijau ini. Khususnya, terkait bahaya besar sampah rumah tangga warga kota yang hanyut ke laut dan menghancurkan ekosistem pesisir.
“Kami memilih bergerak dari aksi nyata yang sederhana dulu, yaitu mengedukasi anak-anak agar tidak membuang sampah sembarangan, mengajari cara memilah sampah, serta memberanikan diri mengingatkan para orang tua supaya tidak membuang sampah ke sungai,” tegas Tristan yang kini giat menghidupkan kembali jaringan Bank Sampah di lingkungannya.
Seirama dengan Tristan, mantan lurah setempat yang bernama Ari ikut bersuara bahwa masalah penumpukan sampah kiriman serta ancaman pendangkalan muara akibat lumpur sedimen yang amat parah ini benar-benar membutuhkan tangan dingin pemerintah pusat.
Ia menceritakan kembali momen tahun lalu ketika lembaga WVI menggerakkan aksi gotong royong pembersihan sungai besar-besaran dari pagi hingga siang hari, yang mana kegiatan heroik ini berhasil menyatukan lebih dari seribu relawan dari pejabat pemerintah, warga lokal, petambak, hingga para nelayan.
Karena medan perairan tergolong sangat sulit, para relawan terpaksa menyisir air menggunakan perahu-perahu kecil serta jaring sederhana untuk menyaring sampah dari badan sungai, sementara alat berat ekskavator bekerja keras mengeruk tumpukan limbah di daratan untuk dipindahkan ke dalam truk angkut.
Namun sayangnya, hasil kerja keras dari aksi pembersihan massal tersebut tidak sanggup bertahan lama. Pasalnya, hanya dalam kurun waktu satu minggu saja, gelombang sampah baru kembali membanjiri dan mencemari aliran sungai tersebut seperti sedia kala.
“Oleh sebab itu, kita sangat membutuhkan intervensi nyata dari skala nasional. Sebab kalau cuma mengandalkan pengerukan di sungai lokal tanpa menyentuh wilayah muara yang menembus ke laut lepas, semua usaha ini pasti bakal sia-sia belakangan,” tutup Ari menegaskan pernyataannya pada Rabu (30/9/2026).
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
