Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Harga Sapi Makin ‘Gila’, Pedagang Daging Jabodetabek Mogok Jualan 3 Hari

Cinta-news.com – Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta resmi menyatakan sikap keras. Mereka mendesak Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk segera turun tangan. Permintaan ini menyikapi harga sapi yang terus melambung tinggi.

Ketua DPD APDI Jakarta, Wahyu Purnama, memaparkan dampak krisis ini. Gelombang kenaikan harga daging sapi menghantam masyarakat menengah ke bawah. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergantung pada daging juga merasakan tekanan. “Kami berharap beliau segera mengambil langkah konkret. Tujuannya menstabilkan harga untuk hajat hidup orang banyak dan keberlangsungan UMKM,” ungkap Wahyu melalui surat resmi, Kamis (22/1/2026).

Namun, janji pemerintah ternyata masih menjadi wacana. Dalam rapat dengan Ditjen Peternakan pada 5 Januari lalu, pemerintah menjanjikan stabilisasi harga sapi timbang hidup dalam dua pekan. Sayangnya, realisasi janji itu tak kunjung terlihat hingga kini.

Kondisi ini memaksa Asosiasi pedagang sapi dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) terus bergelut dengan harga mahal. Di sisi lain, pedagang juga menghadapi penurunan daya beli masyarakat. “Harga sapi dari feedloter terlalu tinggi. Alhasil, harga karkas dari RPH pun ikut naik,” jelas Wahyu. Beban ganda inilah yang memicu keputusan ekstrem.

Setelah menampung aspirasi anggotanya dan pedagang se-Jabodetabek, DPD APDI memutuskan bertindak. Mereka menyerukan aksi mogok berdagang kepada seluruh elemen terkait. “Seluruh anggota APDI, bandar sapi potong, dan pedagang daging akan mogok. Aksi ini sebagai bentuk protes dan keprihatinan kami,” tegas Wahyu.

Aksi mogok ini akan berlangsung selama tiga hari, dari Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1). Lokasinya menyebar di seluruh pasar dan RPH se-Jabodetabek. Aksi ini dipastikan menghentikan pasokan daging sapi di wilayah ibu kota dan sekitarnya. Surat protes resmi dari para pedagang telah mereka terima pada hari Kamis.

Bayangkan dampaknya! Pasar tradisional di Jabodetabek akan lengang dari penjual daging. Ibu-ibu rumah tangga dan pelaku kuliner UMKM pasti kebingungan. Aksi ini adalah puncak keputusasaan pedagang. Mereka terjepit antara harga bahan baku tinggi dan daya beli yang melemah.

Lantas, apa akar masalahnya? Harga sapi timbang hidup dari feedlotter yang tinggi menjadi penyebab utama. Biaya pakan mahal dan keterbatasan pasokan turut mendorong kenaikan. Pemerintah sebenarnya memiliki berbagai alat kebijakan. Mulai dari memperlancar impor, memberi subsidi pakan, hingga menertibkan spekulasi. Namun, semua kebijakan itu memerlukan eksekusi yang konsisten dan transparan.

Aksi mogok ini adalah langkah drastis. Tindakan ini membuktikan seriusnya krisis di rantai pasok daging sapi. Keputusan mogok tiga hari jelas merugikan pendapatan harian pedagang. Namun, mereka menilai kerugian jangka pendek lebih ringan. Lebih baik daripada terus merugi menjual barang mahal yang tidak laku.

Kini, bola ada di tangan pemerintah. Apakah Mentan Amran Sulaiman akan memberikan solusi nyata dalam hitungan hari? Seluruh mata tertuju pada langkah konkret Kementan dan Bapanas dalam 72 jam ke depan. Ketidakpastian ini harus segera diakhiri. Tujuannya mengamankan hajat hidup orang banyak dan menyelamatkan usaha kecil-menengah.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version