Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Hadapi Sepi Pembeli, Pedagang Pasar Asemka Bertahan lewat Platform Digital

Cinta-news.com – Hiruk-pikuk suasana tawar-menawar yang biasanya menggema di lorong-lorong Pasar Asemka, Tamansari, Jakarta Barat, kini sudah tak lagi terdengar. Faktanya, menjelang pergantian tahun 2025, pusat grosir legendaris ini justru terlihat sangat sepi dan lesu. Berdasarkan pantauan di lokasi, kios-kios penjual aksesori maupun suvenir nyaris tak disambangi pengunjung. Para pedagang lebih sering terlihat bersandar di dalam kios sambil asyik memainkan ponsel, sambil setia menunggu kedatangan pelanggan. Namun begitu ada orang yang melintas, wajah mereka langsung terangkat dan segera menyapa dengan penuh harap untuk menjajakan dagangannya.

Di beberapa kios, tumpukan kardus terlihat mendominasi dan berdampingan dengan barang yang coba dipajang di etalase. Sementara itu, di kios lain, para pedagang justru sibuk melakukan pengemasan barang untuk dikirim ke kurir daring, meskipun mereka sama sekali tidak melayani pembeli langsung di lapak. Pada akhirnya, para pedagang terpaksa mengakui adanya penurunan drastis jumlah pengunjung yang datang berbelanja ke Pasar Asemka. Kondisi memprihatinkan ini memaksa mereka untuk berpikir keras, salah satunya dengan menggantungkan nasib pada penjualan daring dan mengikuti tren viral di media sosial agar tetap bisa bernapas.

Aida (33), seorang pedagang tas yang meneruskan usaha orangtuanya, merasakan betul perbedaan atmosfer perdagangan saat ini dibandingkan masa kejayaan pasar ini. “Ngerasain banget sepi banget. Terutama kayaknya ya dua tahun inilah, dua tahun ini Asemka kayak ya beda banget gitu dari yang sebelum-sebelumnya,” ujar Aida dengan nada lirih. Menurut penuturannya, kondisi saat ini sangat jauh berbeda dibandingkan masa saat ibunya yang berjualan dulu. Pengunjung yang datang langsung ke toko fisiknya kini bisa dihitung dengan jari. “Kalau dalam sehari yang beli ke toko langsung tuh ya paling 10 kali ya paling banyak gitu. Bahkan kadang enggak nyampe 10 lah, keitung jari. Sisanya ya dari online,” ungkap Aida dengan jujur.

Karena sadar bahwa mengandalkan pengunjung pasar tak lagi menjanjikan, Aida mau tidak mau harus beradaptasi dengan teknologi. Sebagai pemilik toko, ia kini juga aktif menjadi host siaran langsung melalui marketplace seperti Shopee dan TikTok. “Tapi ya untungnya sih ada online. Jadi ya mau enggak mau, saya belajar online. Udah dua tahun ini juga pokoknya pas mulai sepi-sepi itu akhirnya ya saya belajar lagi,” tutur Aida dengan semangat. Bahkan, demi bertahan hidup, ia rela menambah jam kerjanya hingga malam hari hanya untuk melakukan siaran langsung (live streaming) menarik pembeli. “Jadi kadang kalau malam ada yang nge-live, jualan aja, biasanya emang ramainya malam. Jadi mau enggak mau ngandelinnya ngandelin online aja udah full,” tambahnya.

Menurut pengalamannya, saat masa kejayaan Pasar Asemka beberapa tahun silam, ia bisa dengan mudah mengantongi penghasilan setara dengan UMR Kota Jakarta. Namun, situasi saat ini sungguh memilukan; ia bahkan kesulitan untuk mendapat setengah dari nilai UMR tersebut. “Kalau rame, dulu dulu mah setara sama UMR lah bisa. Apalagi saya ngegaji juga kan dulu mah, punya orang ada beberapa. Sekarang cuma sanggup satu yang bantuin,” ujarnya. “Kalau lagi sepi kayak gini ya susah mau dapet setengahnya juga. Kadang juga enggak ada yang beli sama sekali. Jadi ngelayanin online doang,” keluhnya dengan kepasrahan.

Kelesuan Pasar Asemka juga diakui oleh Sahidi (48), pedagang mainan grosir yang sudah berjualan di Asemka sejak 2018. “Wah, kalau ditanya rame apa enggak, boro-boro. Sepi, parah ini mah. Beda jauh sama zaman sebelum Corona,” kata Sahidi dengan ekspresi getir. Berbeda dengan Aida yang fokus ke platform digital, Sahidi memilih bertahan berjualan di pasar dengan strategi spesial, yaitu mengandalkan tren viral. Ia dengan cermat hanya menyetok barang yang sedang ramai digandrungi anak-anak di media sosial agar bisa cepat laku. “Biasanya mah tergantung trennya, viralnya apa. Kemarin tuh sempat rame yang boneka-boneka Labubu tuh, kita kan jual versi murah itu kan, nah itu lumayan tuh. Tapi Labubunya abis, sebulan lah, ilang lagi (pelanggannya),” jelas Sahidi.

Saat ini, ia terpaksa mengandalkan penjualan gasing modern yang sedang populer di kalangan anak-anak, serta pernak-pernik tahun baru. “Anak sekarang lagi pada doyan main gasing, tapi gasingnya beda enggak kayak kita dulu, lebih cakep dia. Ada yang ada arenanya. Lagi banyak sih, gasing,” tambahnya. “Sama ini lah tahun baru aja, petasan, trompet, tapi enggak berani banyak juga (stoknya), kan saingan banyak juga,” kata dia. Sahidi menduga salah satu alasan utama sepinya Pasar Asemka adalah akibat melemahnya daya beli masyarakat. Ia merasa pengunjung yang datang enggan mengeluarkan uang jika tidak benar-benar perlu. “Kalau ngarepin pembeli yang beli kado (ulang tahun) atau orang lewat mah, wah enggak bisa nutup sewa lapak. Orang juga sekarang pada enggak punya duit kali, apa-apa susah. Enggak pada jajan,” keluh Sahidi.

Sementara itu, Dini (45), pedagang musiman yang tengah menjual kembang api di area luar pasar, mengaku stok barang dagangannya masih sangat menumpuk jelang malam tahun baru. “Sepi, sepi banget. Sekarang, terutama tahun ini ya, berasa sepi banget lah ini akhir tahun. Masih banyak banget stoknya, belum pada habis,” ujar Dini dengan suara kecewa. Padahal, Dini sebenarnya sudah memiliki trik tersendiri untuk menghadapi kantong pembeli yang kian menipis. Ia dengan sengaja menghindari menyetok kembang api berukuran besar yang harganya mahal, meski kualitasnya lebih bagus. “Kalau saya sih triknya kalau emang lagi sepi gini, nyetoknya nyetok yang biasa-biasa aja. Jadi enggak beli banyak lah petasan yang bagus, yang gede-gede,” kata Dini.

Alih-alih menjual barang mewah, ia memilih fokus menjual barang dengan kisaran harga ekonomis yang lebih mudah dijangkau masyarakat. “Banyakinnya nyetoknya jualnya yang harga-harga Rp35.000, Rp50.000, mentok-mentok segitu. Karena kan orang banyak nyarinnya yang segituan. Jadi saya jual yang gampang dibeli aja,” tutur dia. Pada akhirnya, wajah Pasar Asemka yang dulu riuh rendah telah berubah total. Kini, zaman benar-benar menguji ketahanan hidup para pedagangnya. Mereka harus bertarung di dunia digital dan mengandalkan tren sesaat, sambil terus berharap suatu saat cahaya kejayaan pasar legendaris ini akan kembali menyala.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version