BANDUNG, Cinta-news.com – Kabar gembira sekaligus pilu kini menyelimuti nasib belasan pekerja migran asal Jawa Barat. Kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menjerat 10 orang pekerja di sebuah klub malam di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, akhirnya menemukan titik terang setelah polisi bergerak cepat.
Dengan sigap, aparat penegak hukum menetapkan dua orang sebagai tersangka utama TPPO. Mereka adalah YCGW alias AW dan MAAR alias Arina. Tak main-main, keduanya langsung dijebloskan ke dalam sel tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Langkah tegas ini sontak menyedot perhatian publik, terutama di kampung halaman para korban.
Sang Gubernur Beri Acungan Jempol: “Negara Hadir!”
Mendengar perkembangan kasus ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, langsung bereaksi. Dengan nada penuh semangat dan apresiasi, ia menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran kepolisian di NTT. Ia menilai, keseriusan aparat dalam mengusut kasus ini hingga ke akar-akarnya patut menjadi contoh.
“Saya mewakili seluruh masyarakat Jawa Barat, ingin mengucapkan terima kasih yang tulus dan mendalam kepada Bapak Kapolda NTT, Ibu Direktur PPA Polda NTT, Bapak Kapolres Sikka, serta seluruh jajaran Kasat Reskrim dan Kanit PPA Polres Sikka,” ujar Dedi Mulyadi dalam pernyataannya yang dikutip dari akun Instagram pribadinya, Sabtu (28/2/2026). “Mereka telah bekerja dengan sungguh-sungguh, profesional, dan manusiawi dalam memproses dugaan tindak pidana TPPO yang menimpa 12 warga kami ini,” tambahnya.
Pria yang akrab disapa KDM ini menekankan bahwa langkah cepat yang diambil kepolisian di NTT menjadi bukti nyata bahwa negara hadir melindungi warganya. Ia tak menampik bahwa para pekerja tersebut adalah korban dari sindikat yang kejam. Mereka diiming-imingi pekerjaan layak, namun kenyataannya mereka justru terperangkap dalam lingkaran setan eksploitasi di dunia malam.
Mantan Bupati Purwakarta itu pun berharap, proses hukum yang sedang berjalan dapat terus transparan dan berkeadilan. “Kami percaya, dengan komitmen yang sudah ditunjukkan, kepolisian akan memberikan vonis setimpal bagi para pelaku. Ini penting sebagai efek jera,” tegasnya.
Suster Ika, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Tengah Badai
Namun, cerita heroik dalam kasus ini tak hanya datang dari institusi polisi. Dedi Mulyadi juga secara khusus menyoroti peran luar biasa dari para pendamping di lapangan. Ia mengapresiasi setinggi langit kerja keras Suster Ika dan tim kuasa hukum yang telah berjuang tanpa lelah.
“Saya sungguh terharu dan berterima kasih kepada Suster Ika. Beliau bersama seluruh tim, termasuk para pengacara, telah bahu-membahu melakukan perjuangan kemanusiaan. Mereka tak kenal lelah mendampingi, melindungi, dan memperjuangkan hak-hak warga Jabar yang ada di sana,” ungkap KDM penuh haru.
Menurutnya, aksi kemanusiaan yang dilakukan para pendamping ini adalah wujud solidaritas yang paling nyata. Mereka terjun langsung, berhadapan dengan situasi sulit, hanya demi memastikan para korban mendapatkan keadilan.
Masih Ada yang Terjebak: Dedi Beri Jalan Pulang
Di balik rasa syukur atas penetapan tersangka, Dedi Mulyadi masih menyimpan secuil keprihatinan. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa masih ada warga Jawa Barat lainnya yang terdampar di sejumlah klub malam di wilayah NTT. Mereka belum bisa pulang kampung karena terlilit utang dan berbagai persoalan rumit lainnya.
“Nah, ini yang masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Saya mendapat informasi, masih banyak warga Jabar yang bekerja di klub-klub sana. Mereka terjerat utang, tak punya ongkos pulang, dan hidup dalam tekanan. Ini jelas bukan pekerjaan yang membawa kebahagiaan, melainkan penderitaan,” tutur Dedi.
Maka dari itu, ia pun membuka pintu lebar-lebar. Dengan tegas, ia mengajak para pekerja yang masih terjebak tersebut untuk pulang ke kampung halaman.
“Kami akan menjemput mereka. Saya mengajak mereka semua untuk kembali. Mari pulang, kita selesaikan semua problem bersama-sama. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan hadir untuk memfasilitasi dan membantu mereka memulai hidup baru yang lebih baik dan bermartabat. Jangan biarkan diri kalian terus menderita di tempat yang salah,” pungkasnya dengan nada mengajak namun penuh ketegasan.
Dengan langkah ini, Dedi Mulyadi berharap tak ada lagi warga Jawa Barat yang menjadi korban TPPO. Ia ingin para pekerja migran bisa meraih penghasilan dengan cara yang halal dan bahagia, bukan justru tenggelam dalam nestapa di negeri orang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
