BOYOLALI, Cinta-news.com – sebanyak 67 pendaki ilegal masih dengan berani memaksakan diri mendaki Gunung Merapi meskipun statusnya masih siaga. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mencatat angka memprihatinkan ini sejak akhir tahun 2025 lalu, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, mayoritas dari mereka ternyata masih duduk di bangku SMA hingga perguruan tinggi!
Bayangkan, di tengah ancaman erupsi yang masih menghantui, para remaja ini justru memilih menantang maut. BTNGM pun tak tinggal diam dan kini menggencarkan patroli di berbagai jalur pendakian untuk membendung aksi nekat tersebut. Kondisi Gunung Merapi saat ini memang belum sepenuhnya aman, karena dalam radius tiga kilometer dari puncak, segala aktivitas masih dilarang keras oleh pihak berwenang.
Sanksi Tak Membuat Jera, BTNGM Putar Otak
Kepala BTNGM, Heri Wibowo, mengungkapkan rasa prihatinnya saat memimpin rapat koordinasi penanganan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, pada Kamis (16/7/2026). Menurutnya, dari data yang terkumpul sejak akhir 2025, tercatat sudah 67 pendaki ilegal yang terjaring, dan kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa.
“Kita kasih sanksi semua kepada mereka. Tetapi kan sanksinya ya seperti itu saja, kadang-kadang tidak membuat mereka jera,” ujar Heri dengan nada prihatin. Kendati demikian, BTNGM tak patah arang dan justru semakin mematangkan strategi untuk mengatasi masalah ini. Patroli di jalur-jalur pendakian pun akan segera diintensifkan, karena pihaknya menilai banyak pendaki ilegal berasal dari luar daerah sekitar Merapi.
“Kami mungkin akan intensifkan juga di lapangan. Karena kita lihat kayaknya pendaki-pendaki yang dari luar ya yang banyak melakukan pendakian,” tambah Heri menjelaskan. Selain patroli, BTNGM juga berencana memasang lebih banyak papan larangan pendakian di berbagai titik strategis sebagai upaya edukasi kepada masyarakat. “Nanti kami tetap patroli. Terus kemudian ke depan kami mau pasang lagi papan-papan larangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya.
Masyarakat Terdampak, BTNGM Cari Jalan Tengah
Di sisi lain, Heri juga menyadari bahwa penutupan jalur pendakian ini membawa dampak signifikan terhadap perekonomian warga sekitar yang selama ini menggantungkan hidup dari jasa pemandu, penjualan perlengkapan, hingga warung-warung di jalur pendakian. Untuk mengatasi hal ini, BTNGM berencana menggelar pertemuan dengan masyarakat guna mencari solusi bersama yang menguntungkan semua pihak.
“Saya pikir masyarakat juga berpikir, kami juga cooling down. Pasti nanti akan ada pertemuan lagi yang sifatnya informal untuk mengambil langkah-langkah yang diminta, apa solusinya selain pendakian untuk ekonomi masyarakat di situ,” ungkap Heri.
Sebagai alternatif, BTNGM tengah mematangkan opsi pemberdayaan masyarakat melalui program kemitraan konservasi. “Pemberdayaan masyarakat, kemitraan konservasi itu kan sudah hal yang biasa kita lakukan di Kementerian Kehutanan. Paling akan seperti itu nantinya,” jelas Heri.
Ia juga optimistis bahwa masyarakat mulai memahami kondisi kawasan Gunung Merapi yang masih berbahaya. Berdasarkan hasil rapat koordinasi, terlihat bahwa warga mulai menurunkan ego dan bersedia menahan diri demi keselamatan bersama. “Kalau saya lihat tadi, masyarakat juga menurunkan egonya. Dengan berbagai masukan dari kepolisian, Koramil, Pak Dandim dan Pak Asisten, saya pikir mereka meminta untuk cooling down, menahan diri dulu sampai nanti ada informasi yang baik untuk pembukaan pendakian,” tambahnya.
Bahaya Mengintai, Erupsi Eksplosif Masih Mengancam!
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, memberikan peringatan keras bahwa radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi harus benar-benar bebas dari aktivitas manusia. Pasalnya, potensi bahaya erupsi eksplosif masih sangat tinggi dan dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Untuk itulah aktivitas pendakian belum kami rekomendasikan sampai dengan saat ini,” tegas Agus. Ia menjelaskan bahwa jika terjadi erupsi eksplosif, material vulkanik yang disemburkan bisa berukuran sebesar bongkahan 20 sentimeter, yang tentunya sangat membahayakan nyawa siapa pun yang berada di zona berbahaya.
Lebih lanjut, Agus mengungkapkan bahwa potensi erupsi eksplosif Gunung Merapi masih cukup besar, disertai dengan guguran awan panas yang hingga kini masih terjadi secara intensif. Jumlah guguran awan panas ini bahkan mencapai ratusan kali per hari, menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung ini masih sangat dinamis dan sulit diprediksi.
“Jadi, dengan probabilitas kejadian erupsi eksplosif yang akan membahayakan para pendaki, maka kami belum menyarankan adanya pendakian,” imbuh Agus menegaskan. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bagi para pendaki nekat bahwa keselamatan jauh lebih berharga daripada sekadar menikmati pemandangan dari puncak Merapi. Semua pihak tentu berharap agar kesadaran masyarakat semakin meningkat, sehingga tidak ada lagi korban jiwa akibat ulah nekat mengabaikan aturan yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
