Cinta-news.com – Hebat! Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja meningkatkan level pertahanan Indonesia melawan bencana alam secara drastis. Bayangkan saja, mereka baru saja merampungkan pemasangan lebih dari 10.000 detektor canggih! Alat-alat mutakhir ini secara khusus berfungsi untuk memperkuat pemantauan cuaca, aktivitas gempa bumi, hingga ancaman tsunami yang sewaktu-waktu bisa datang. Jadi, kita sekarang punya jaringan pengawasan yang super ketat.
Yang lebih keren lagi, ribuan “mata-mata” alam ini tersebar luas di stasiun-stasiun pemantau yang mengcover 191 daerah berbeda di seluruh Nusantara. Setiap detektor itu dipantau langsung secara real-time oleh unit pelaksana teknis (UPT) BMKG di lapangan. Artinya, informasi yang masuk lebih cepat, lebih akurat, dan langsung dari sumbernya. Jadi, jangan heran kalau nanti peringatan dini bisa lebih awal dan tepat sasaran.
Kabar gembira ini langsung disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). Faisal dengan bangga memaparkan pencapaian besar ini di hadapan seluruh jajaran pemerintah. Intinya, BMKG ingin memastikan bahwa Indonesia kini dilindungi oleh sistem pemantauan terpadu yang sangat luas jangkauannya.
“Semua sistem ini terpantau langsung di UPT-UPT BMKG kami,” tegas Faisal kepada Presiden dan para menteri. Lebih detail, ia menjelaskan bahwa stasiun-stasiun yang tersebar di 191 daerah itu dilengkapi dengan lebih dari 10.000 alat cerdas. Alat-alat tersebut secara aktif memantau kondisi cuaca, tremor gempa, dan gelombang laut yang berpotensi tsunami. Jadi, coverage-nya benar-benar komprehensif.
Tak cukup sampai di situ, BMKG juga ternyata memasang lightning detector atau alat pendeteksi petir di 38 UPT. Alat ini punya fungsi spesial, yaitu memetakan lokasi dan mengukur intensitas sambaran petir secara presisi. Dengan begitu, kita bisa tahu area mana yang harus waspada terhadap bahaya petir. Sebagai langkah selanjutnya, Faisal juga mengungkap rencana pengembangan sistem prakiraan cuaca berbasis dampak atau Impact-Based Forecast (IBF).
Nah, sistem IBF ini keren banget, lho! Jadi, informasi prakiraan cuaca nggak cuma sekadar bilang “besok hujan”, tapi juga memperhitungkan dan memprediksi potensi dampak yang akan terjadi akibat cuaca tersebut. “Kami bahkan bisa memprediksi petir akan terjadi di mana dan kapan, semuanya berasal dari analisis kondisi cuaca di sekitarnya,” papar Faisal. Praktis, masyarakat bisa bersiap lebih matang menghadapi efeknya, bukan hanya fenomena alamnya.
Aksi BMKG ternyata lebih proaktif lagi! Selain memantau, mereka juga akan melakukan modifikasi cuaca skala besar di beberapa wilayah padat penduduk, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Lampung. Tujuannya jelas: untuk mengantisipasi dan memitigasi potensi hujan ekstrem yang dipicu oleh siklon Bakung, bibit siklon 93S, dan bibit siklon 95S. Mereka nggak mau tinggal diam menunggu bencana datang.
Lalu, bagaimana caranya? “Kami melakukan operasi modifikasi cuaca ini untuk mencegah awan-awan hujan mendekati daratan Indonesia,” jelas Faisal. Strateginya, ketika awan hujan pembawa banjir itu mendekat, tim BMKG akan segera menyemainya dengan bahan semai seperti NaCl (garam) di atas laut atau perairan. Hasilnya, hujan akan turun lebih dini di lokasi yang aman, jauh dari pemukiman warga.
Bahkan, kalau awan hujan ekstremnya sudah telanjur sampai di atas wilayah seperti Jakarta, BMKG punya jurus jitu lain. “Kami akan menebarkan kapur tohor atau CaO,” sambung Faisal. Teknik ini bertujuan memecah gumpalan awan sehingga potensi hujan lebat berkurang secara signifikan. Menurut data mereka, modifikasi cuaca ini terbukti mampu menurunkan curah hujan hingga 20-50 persen! Angka yang sangat berarti untuk mencegah banjir.
Seluruh operasi penguatan ini dilakukan BMKG dengan berkolaborasi erat bersama instansi terkait seperti BNPB, BPBD, dan Basarnas. Kolaborasi solid ini bertujuan tunggal: demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat Indonesia. Sebagai penutup, Faisal mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, namun juga tenang dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem.
“Kepada masyarakat, kami imbau untuk tetap tenang selama kita bisa aktif memantau kondisi dan selalu bersiap siaga menghadapi kemungkinan curah hujan tinggi dan gelombang tinggi,” pesan Faisal menenangkan. Intinya, dengan teknologi mutakhir, modifikasi cuaca, dan koordinasi yang apik, BMKG berusaha maksimal menjadikan Indonesia lebih siap dan tangguh. Jadi, kita sebagai masyarakat bisa sedikit lebih lega karena negara aktif menjaga kita dari langit hingga ke dasar laut.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











