Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

BKSDA Selidiki Kematian Gajah Sumatera Akibat Jerat Kawat Listrik di Aceh Tengah

Cinta-news.com – Sebuah peristiwa memilukan baru saja mengguncang warga Aceh Tengah. Seekor gajah sumatera betina terbujur kaku di Desa Karang Ampar pada Sabtu (21/2/2026) pagi. Yang membuat bulu kuduk merinding, belalainya masih terjerat erat oleh kawat listrik beraliran tegangan tinggi di tengah perkebunan warga. Satwa dilindungi ini menghembuskan napas terakhir setelah diduga kuat tersengat listrik maut tersebut.

gajah

Seorang warga pertama kali mengetahui kejadian ini ketika melintas di area perkebunan. Ia mencium bau tidak sedap menyengat dari arah semak belukar. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bangkai gajah besar sudah tergeletak tak bernyawa. Ia segera meneruskan laporan kepada petugas pada hari yang sama.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan hasil pemeriksaan awal tim di lapangan. Tim memperkirakan gajah malang itu mati pada Jumat (20/2/2026) malam berdasarkan kondisi bangkai. Kawat maut itu masih melilit erat di belalainya saat tim menemukan bangkai tersebut. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan.

“Pemasangan kawat berarus listrik tegangan tinggi membawa risiko besar. Cara ini tidak hanya membahayakan satwa liar, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa kita sendiri, keluarga, dan warga sekitar,” ujar Ujang dengan nada prihatin saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.

Metode Berbahaya yang Kembali Merenggut Nyawa

Peristiwa ini sontak menyita perhatian banyak pihak. Masyarakat pun langsung kami imbau untuk tidak lagi menggunakan metode berbahaya seperti ini ketika ingin menghalau satwa liar. Cara-cara seperti ini sudah berkali-kali terbukti membawa petaka. Pendekatan yang lebih aman, manusiawi, dan sesuai aturan harus segera kita terapkan bersama.

Tim BKSDA tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan langsung memasang garis polisi. Mereka mengamankan lokasi sebelum proses investigasi lebih lanjut dimulai. Tim medis nantinya akan melakukan proses bedah bangkai atau nekropsi untuk memastikan penyebab pasti kematian. Semua prosedur harus kita jalani dengan cermat dan teliti. Rencananya, tim akan segera menguburkan bangkai gajah betina berusia sekitar 20 tahun itu setelah semua proses selesai.

Tim gabungan bergerak cepat setelah menerima laporan dari warga. Personel Polsek Karang Ampar, Babinkamtibmas, serta mitra dari WWF Indonesia turun bersama ke lokasi. Mereka bahu-membahu melakukan pengecekan mendalam dan mengamankan area sekitar. Petugas melarang warga mendekati area tersebut demi keselamatan bersama.

Populasi yang Kian Terancam dan Harapan akan Solusi Damai

Kita semua perlu menyadari, gajah sumatera termasuk satwa yang dilindungi undang-undang. Konflik yang tak kunjung usai dengan manusia terus mengancam populasinya di alam liar. Perubahan habitat yang masif juga memperparah kondisi ini. Data dari laman Direktorat Jenderal KSDAE tahun 2025 menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Populasi gajah sumatera saat ini hanya berkisar antara 924 sampai 1.359 individu saja. Angka yang sangat kritis untuk kelangsungan hidup spesies ini!

Kejadian di Aceh Tengah ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Aceh kembali mengingatkan masyarakat. Kita tidak boleh menggunakan metode berbahaya demi menghalau satwa. Pendekatan yang lebih aman dan sesuai aturan harus segera kita terapkan secara konsisten.

Konflik antara gajah dan manusia memang sering terjadi. Habitat mereka terus tergerus oleh perluasan lahan perkebunan. Namun, memasang setrum listrik jelas bukan solusi yang tepat. Cara ini justru menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Bukan hanya satwa, warga yang tidak bersalah pun bisa menjadi korban berikutnya.

Kita semua berharap tragedi seperti ini tidak terulang lagi di masa depan. Berbagai pihak harus terus menggalakkan edukasi kepada masyarakat. Mereka perlu mengetahui cara-cara mitigasi konflik yang benar dan manusiawi. Gajah sumatera merupakan warisan alam yang tak ternilai harganya. Kita semua memikul tanggung jawab besar untuk melindunginya. Jangan sampai cara-cara kejam seperti ini terus merenggut nyawa mereka.

Warga Desa Karang Ampar masih diliputi rasa duka dan prihatin. Mereka berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Jangan sampai nafsu melindungi tanaman perkebunan berujung pada kematian satwa langka. Cara-cara berbahaya seperti ini juga bisa mengancam nyawa manusia suatu saat nanti. Alam sudah memberi kita banyak hal. Sudah saatnya kita memberi ruang bagi mereka untuk hidup berdampingan secara damai.

Solusi Alternatif untuk Mengatasi Konflik Manusia dan Gajah

BKSDA Aceh sebenarnya sudah sering mengenalkan berbagai metode ramah lingkungan untuk menghalau gajah liar. Petugas bisa menggunakan cabai sebagai penghalau alami. Mereka juga bisa membuat parit atau pagar tanaman yang tidak disukai gajah. Tim patroli gabungan juga rutin berkeliling memantau pergerakan kawanan gajah. Masyarakat perlu aktif berkoordinasi dengan petugas jika melihat kemunculan gajah di sekitar pemukiman.

Pemerintah daerah juga harus turun tangan mengatasi akar permasalahan. Mereka perlu memetakan kembali jalur jelajah gajah yang selama ini terputus oleh perkebunan. Koridor satwa harus segera kita wujudkan agar gajah punya akses pangan tanpa harus masuk ke lahan warga. Semua pihak harus duduk bersama mencari solusi jangka panjang. Jangan sampai kita menunggu korban berikutnya berjatuhan.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *