JAKARTA – Cinta-news.com – Geger! Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat bicara soal bocoran anggaran fantastis untuk event organizer (EO) yang tembus Rp 113,91 miliar. Pasalnya, dokumen tersebut mendadak viral dan bikin publik panas dingin di media sosial. Nah, penasaran kan, sebenarnya apa sih kebutuhan segila itu?
Bos BGN Mengonfirmasi Kebenaran Anggaran Miliaran Rupiah
Kepala BGN, Dadan Hindayana, dengan tegas membenarkan adanya anggaran sebesar itu. Pria yang memimpin lembaga gizi nasional ini pun menjelaskan, penggunaan jasa EO ternyata bukan sekadar gaya-gayaan. Justru, hal itu menjadi kebutuhan strategis yang sangat mendesak bagi lembaganya saat ini.
Lho, kenapa bisa begitu? Ternyata, BGN masih berada dalam tahap awal pembentukan layaknya bayi yang baru lahir. Oleh karena itu, lembaga ini masih sibuk menyusun sistem, merancang struktur organisasi, hingga mengatur tata kelola operasional dari nol. Karena kondisinya masih sangat dini, BGN belum memiliki kapasitas untuk menggelar kegiatan berskala besar secara mandiri. Maka, tidak heran jika mereka butuh “tangan kanan” yang sudah profesional.
Belum Punya Tim, BGN Mengakui Ketergantungan pada EO
Dengan nada terus terang, Dadan menjelaskan situasi pelik yang mereka hadapi. “Dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Minggu (12/4/2026). Karena itu, mereka butuh solusi instan tanpa mengorbankan kualitas.
Selanjutnya, Dadan membeberkan alasan logis lainnya. EO, menurutnya, memiliki keahlian manajemen acara yang belum dimiliki secara penuh oleh BGN. Kemampuan profesional tersebut mencakup perencanaan yang matang, koordinasi dengan berbagai vendor, pengelolaan teknis di lapangan yang rumit, hingga mitigasi risiko operasional yang tak terduga. Tanpa EO, acara besar bisa amburadul.
Lebih lanjut, penggunaan EO juga dinilai sangat membantu dalam urusan administrasi dan keuangan yang super kompleks. Misalnya, proses pengadaan barang dan jasa jadi lebih mudah, pembayaran vendor tidak kacau, hingga pelaporan kegiatan dapat berjalan lebih terpusat dan sistematis. “Hal-hal ini membutuhkan pengalaman dan tim yang solid,” tegas Dadan. Jelas, BGN di fase awal ini belum memiliki semua itu.
Efisiensi Waktu Jadi Alasan Kuat Pakai EO
Dadan pun kembali menegaskan argumennya dengan perbandingan yang menarik. Menurutnya, menggunakan jasa EO jauh lebih efisien dibandingkan harus membentuk tim internal dalam waktu singkat. Coba bayangkan, proses rekrutmen, seleksi, hingga pelatihan karyawan baru pasti memakan waktu berbulan-bulan. Sementara itu, kebutuhan pelaksanaan program BGN harus segera berjalan dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.
“EO hadir sebagai solusi bridging,” jelas Dadan dengan penuh keyakinan. Artinya, EO menjadi jembatan agar program tetap bisa dieksekusi dengan cepat tanpa mengorbankan kualitas dan waktu yang sudah ditentukan. Dengan kata lain, daripada mandek dan gagal target, lebih baik pakai profesional yang sudah siap tempur.
Bukan Hanya untuk Pesta, Ini Tugas Besar EO!
Dadan juga meluruskan anggapan sebagian orang yang mengira EO hanya untuk acara seremonial atau pesta belaka. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang melibatkan EO tersebut menjadi bagian integral dari strategi komunikasi publik yang serius terkait isu gizi nasional. Jadi, ini bukan sekadar hura-hura.
Peran EO terlihat jelas dalam berbagai agenda penting. Mulai dari kampanye publik yang masif, sosialisasi nasional hingga ke pelosok, sampai kegiatan teknis yang rumit seperti bimbingan teknis (bimtek) untuk para penjamah makanan. Semua itu butuh sentahan profesional.
“Oleh karena itu, kualitas penyelenggaraan menjadi krusial,” ungkapnya. EO berperan besar dalam memastikan pesan pemerintah bisa dikemas secara efektif, menarik, dan berdampak luas. Tujuannya jelas, agar program gizi nasional dapat tercapai secara optimal. Selain itu, EO juga membantu pengelolaan SDM yang terlatih di bidangnya.
EO Juga Memberi Masukan dan Anggaran Tetap Diawasi
Menariknya, Dadan mengungkapkan bahwa EO tidak hanya disuruh kerja, tetapi juga aktif memberi masukan dalam perencanaan kegiatan. Masukan tersebut mencakup strategi komunikasi yang tepat, cara pengelolaan audiens yang besar, hingga tips optimalisasi anggaran agar tidak membengkak. Jadi, mereka seperti konsultan plus pelaksana.
Yang terpenting, Dadan memastikan seluruh penggunaan anggaran Rp 113,9 miliar itu dilakukan sesuai aturan main. Pemerintah tetap menjaga prinsip transparansi dan akuntabilitas secara ketat. “Setiap pengeluaran, termasuk penggunaan jasa EO, dilakukan melalui mekanisme yang sesuai,” tuturnya. Bahkan, semua proses tersebut terbuka untuk diawasi oleh lembaga pengawas internal maupun eksternal. Jadi, tidak ada yang bisa sembunyi.
Heboh di Medsos, Daftar EO dan Nilai Kontraknya Bikin Melongo
Perlu diketahui, informasi anggaran ini pertama kali mencuat liar setelah sebuah unggahan di media sosial X (dulu Twitter) beredar luas. Unggahan tersebut memuat daftar 16 perusahaan EO yang mengerjakan 16 paket pekerjaan dengan nilai kontrak total mencapai Rp 113.916.541.381. Wah, angka yang sangat fantastis!
Unggahan itu pun langsung ramai diperbincangkan di tengah isu efisiensi anggaran dan prioritas belanja pemerintah yang sedang panas. Publik pun bertanya-tanya, apakah segitu besar anggarannya masih relevan?
Perusahaan Mana Saja yang Dapat Jumbo?
Berdasarkan data yang beredar, perusahaan atas nama Maria Utara Jaya tercatat memperoleh nilai kontrak terbesar. Perusahaan ini mengantongi proyek hingga Rp 18,47 miliar hanya untuk satu paket pekerjaan saja! Giliran berikutnya, perusahaan Anugrah Duta Promosindo menyusul dengan nilai total Rp 17,42 miliar untuk empat paket pekerjaan. Terakhir, Falah Eka Cahya juga kebagian rezeki nomplok sebesar Rp 16,59 miliar untuk satu paket pekerjaan.
Nah, itu dia fakta-fakta di balik viralnya anggaran EO BGN yang bikin publik penasaran. Apakah menurut Anda penggunaan jasa EO sebesar itu efisien untuk lembaga yang baru lahir?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











