PYONGYANG, Cinta-news.com – Siapa sangka, di tengah hiruk-pikuk perang yang tak kunjung reda, Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, justru sibuk menyiapkan sebuah “kejutan” monumental. Bukan rudal atau hulu ledak yang ia luncurkan, melainkan cetak biru sebuah bangunan megah. Kim Jong Un baru saja terjun langsung mengawasi pembangunan monumen raksasa. Monumen ini didedikasikan khusus bagi para prajuritnya yang bertaruh nyawa di medan perang Ukraina. Langkah ini sontak menyita perhatian dunia. Tindakan ini membuktikan bahwa Pyongyang tidak main-main dalam urusan “bisnis” militer bersama Rusia.
Dalam kunjungan kerjanya yang penuh wibawa ke lokasi proyek, Kim Jong Un tampak begitu serius. Ia mengamati setiap detail rancangan museum. Sang pemimpin dengan lantang memuji para prajuritnya. Mereka telah dikerahkan untuk membantu mesin perang Rusia. Menurut laporan yang dikutip dari AFP pada Sabtu (14/2/2026), sang pemimpin tersebut benar-benar terkesan. Ia melihat aksi anak buahnya di garis depan.
“Keberanian yang tidak ada tandingannya serta heroisme massal benar-benar membuat saya bangga,” ujar Kim dengan penuh semangat. Heroisme ini mereka peragakan di medan tempur luar negeri. Ia kemudian menambahkan bahwa pengorbanan itu tidak boleh hanya menjadi kenangan. “Semua itu harus kita pahat dalam sejarah sebagai panji kejayaan yang tak terkalahkan,” tegasnya. Ia menekankan bahwa monumen ini akan menjadi saksi bisu. Monumen ini akan menggambarkan kegagahan Tentara Rakyat Korea.
Proyek ambisius ini bernama Museum Peringatan Prestasi Tempur. Museum ini bukan sekadar tumpukan batu biasa. Situs ini menjelma menjadi simbol paling nyata. Simbol ini mewakili ikatan baja yang kini mengikat Pyongyang dan Moskow. Prosesi peletakan batu pertama pada Oktober 2025 lalu juga terasa begitu istimewa. Duta Besar Rusia untuk Korea Utara hadir langsung dalam acara tersebut. Kehadiran diplomat tinggi negara sahabat itu seolah mengukuhkan pesan. Museum ini nantinya tidak hanya bercerita tentang kepahlawanan Korea Utara. Museum ini juga akan bercerita tentang persahabatan abadi di tengah kobaran api perang.
Tak sampai di situ, Kim Jong Un juga baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mengguncang jagat geopolitik. Ia menegaskan komitmen penuhnya. Ia akan memberikan dukungan tanpa syarat terhadap seluruh kebijakan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Ia juga akan mendukung semua keputusan Putin. Sikap ini jelas menunjukkan bahwa Korea Utara telah memilih kubu dengan mantap. Mereka siap berlayar bersama Rusia, apa pun badai yang menghadang di depan.
Sejak Rusia pertama kali melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022, dinamika global berubah drastis. Korea Utara, yang selama ini hidup dalam isolasi diplomatik, justru menemukan angin segar. Mereka dengan cepat memperdalam aliansi militer bersama Kremlin. Hubungan ini bagaikan simbiosis yang saling menguntungkan. Semua ini terjadi di tengah tekanan sanksi internasional.
Dampak Perang yang Mengguncang dan Imbalan Manis di Balik Layar
Nah, di balik gemerlapnya rencana pembangunan museum, ada fakta pahit. Ada pula retorika heroik yang harus dibayar mahal oleh Pyongyang. Berdasarkan data intelijen dari Korea Selatan, Korea Utara telah mengirimkan ribuan personel militernya. Mereka juga menerima data dari negara-negara Barat. Mereka mengirimkan personel untuk membackup pasukan Rusia. Pasukan Rusia kini sudah memasuki tahun keempat pertempuran sengit.
Namun, konsekuensinya sungguh memilukan. Estimasi dari Seoul menyebutkan angka yang mengejutkan. Setidaknya 600 prajurit Korea Utara telah gugur di medan laga. Jumlah ini belum termasuk ribuan lainnya. Mereka harus menderita karena luka-luka dan cacat fisik. Bayangkan, setiap prajurit yang gugur itu adalah putra-putra bangsa. Namanya akan diabadikan di museum yang sedang dibangun.
Selain mengirimkan personel, Pyongyang juga berperan sebagai pemasok logistik perang yang andal. Peluru artileri buatan Korea Utara mengalir deras ke medan perang Ukraina. Rudal dan sistem roket jarak jauh juga turut serta. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan Korea Utara tidak hanya bersifat simbolis. Dukungan ini bersifat material dan signifikan.
Lalu, apa untungnya bagi Kim Jong Un? Tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia geopolitik. Sebagai imbalan atas dukungan militer yang berani ini, para analis meyakini adanya transaksi besar. Rusia mengirimkan berbagai bantuan krusial. Mulai dari bantuan finansial yang sangat dibutuhkan. Rusia juga mentransfer teknologi militer canggih. Mereka juga mengirimkan pasokan pangan dan energi. Pasokan ini selama ini menjadi titik lemah ekonomi Korea Utara. Imbalan inilah yang kemungkinan besar menjadi bahan bakar utama. Bahan bakar ini membuat Pyongyang terus berada di sisi Moskow. Mereka bertahan apa pun risikonya.
Dengan membangun museum ini, Kim Jong Un seolah ingin mengatakan sebuah pesan. Setiap tetes darah yang tumpah di negeri orang akan dikenang sebagai bunga bangsa yang abadi. Namun di sisi lain, dunia bisa melihat sisi lain. Ini adalah tontonan propaganda perang yang dikemas mewah. Nyawa prajurit menjadi taruhan dalam permainan politik global yang keras.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











