PORTLAND, Cinta-news.com – Kekerasan agen federal kembali mengguncang Amerika Serikat! Kali ini, dua warga sipil menjadi korban penembakan di Kota Portland, Negara Bagian Oregon, Kamis (8/1/2026). Pihak Kepolisian Portland langsung mengonfirmasi bahwa seorang pria dan wanita menjadi korban. Petugas segera melarikan keduanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis darurat.
Pernyataan resmi Kepolisian Portland tegas menyatakan, “Penembakan yang melibatkan agen federal membuat dua orang harus dirawat di rumah sakit.” Mari kita telusuri kronologi kejadiannya.
Pertama, kepolisian Portland menegaskan bahwa personel mereka sama sekali tidak terlibat dalam aksi tembak tersebut. Polisi justru baru tiba di lokasi setelah mereka menerima panggilan bantuan pada siang hari. Begitu tiba di tempat kejadian, petugas langsung menemukan kedua korban dalam kondisi terluka.
Petugas yang menanggapi segera menemukan seorang pria dan wanita dengan luka tembak. Tanpa berlama-lama, mereka memasang perban dan memanggil petugas medis darurat.
Laporan dari stasiun televisi lokal ABC, KATU2, melengkapi gambaran dengan menyebutkan, setelah insiden penembakan, kedua korban berusaha menjauh menuju kompleks apartemen untuk meminta bantuan. Namun, hingga saat ini, kita belum mengetahui kondisi medis kedua korban secara pasti.
“Petugas membawa para pasien ke rumah sakit. Namun, kita belum bisa memastikan kondisi mereka. Investigasi awal memastikan bahwa kedua orang tersebut terluka dalam penembakan yang melibatkan agen federal,” tambah pihak kepolisian.
Di sisi lain, Kantor FBI Portland sempat mengonfirmasi insiden ini via media sosial, namun kemudian mereka menghapus unggahan tersebut. Dalam keterangan singkatnya, FBI menyebut bahwa agen Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) terlibat dalam insiden ini.
“Saat ini, FBI Portland sedang menyelidiki penembakan yang melibatkan agen. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 14.15 di dekat blok 10000 Main St. di Portland dan melibatkan Agen Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan.
Insiden tersebut mengakibatkan dua orang terluka,” tulis FBI dalam pernyataannya. Oleh karena itu, pihak berwenang menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan aktif di bawah pimpinan FBI.
Yang membuat publik semakin geram, insiden di Portland ini meledak hanya sehari setelah peristiwa tragis di Minneapolis. Di sana, agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) menewaskan seorang ibu berusia 37 tahun, Renee Nicole Good. Sebagai tanggapan, Gedung Putih mengklaim tindakan di Minneapolis sebagai bentuk pembelaan diri terhadap terorisme domestik.
Menyikapi rangkaian peristiwa ini, Wali Kota Portland Keith Wilson melontarkan kritik keras terhadap keberadaan agen federal bersenjata lengkap di kotanya. Ia menyoroti bahwa hal ini merupakan dampak langsung dari kebijakan penindakan imigrasi ilegal yang Presiden Donald Trump gaungkan.
“Baru sehari setelah kekerasan mengerikan di Minnesota yang agen federal lakukan, komunitas kita di Portland kini harus bergulat dengan insiden lain yang sangat mengkhawatirkan,” ujar Wilson dengan nada kesal.
Kemudian, ia menegaskan bahwa Portland tidak boleh menjadi “medan latihan” bagi agen-agen militer. “Kita tidak boleh tinggal diam saat perlindungan konstitusional terkikis dan pertumpahan darah meningkat. Portland bukan ‘tempat latihan’ bagi agen-agen militer. Ancaman ‘kekuatan penuh’ dari pemerintah justru membawa konsekuensi yang mematikan,” tegasnya tanpa ragu.
Sebagai langkah tegas, Wilson pun menyerukan agar otoritas ICE segera menghentikan seluruh operasinya di Portland. Ia meminta penghentian ini berlaku hingga investigasi menyeluruh selesai.
Di akhir pernyataannya, dia juga meminta warga Portland untuk tetap tenang dan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. “Saya menyerukan kepada setiap warga Portland untuk mewujudkan nilai-nilai kita dan hadir dengan tenang serta penuh tujuan selama masa sulit ini,” pungkasnya dengan harapan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
