Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Banjir Kembali Rendam Aceh Utara, Status Bencana Naik ke Tanggap Darurat

ACEH UTARA, Cinta-news.com – Alam ternyata belum mau berdamai! Hujan deras yang mengguyur tanpa ampun selama dua hari berturut-turut akhirnya kembali membenamkan sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Padahal, kondisi ini jelas memukul mundur upaya pemulihan yang sedang berjalan.

Faktanya, pemerintah setempat sebelumnya sudah mencoba bernapas lega dengan mengubah status bencana dari fase genting (tanggap darurat) menuju fase penyembuhan (transisi darurat). Masa transisi ini bahkan sudah ditetapkan untuk periode 6 Januari hingga 5 Februari 2026. Namun, semua rencana itu akhirnya berantakan hanya dalam hitungan hari.

Akibatnya, dengan berat hati, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terpaksa menghentikan fase transisi dan kembali menekan tombol panic button. Mereka secara resmi mengembalikan status bencana menjadi tanggap darurat mulai 10 hingga 24 Januari 2026. Keputusan penting ini merupakan hasil rapat darurat para pimpinan daerah yang digelar di Pendopo Bupati pada Jumat (9/1/2026).

Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, dengan tegas menjelaskan alasan di balik keputusan balik arah ini. “Kami terus memantau perkembangan selama dua hari terakhir dan melihat banjir justru makin meluas ke banyak kecamatan,” ujarnya. Oleh karena itu, dia menegaskan, “Kita harus segera menjalankan langkah penanganan darurat tanpa delay untuk melindungi masyarakat.” “Perubahan status ini secara otomatis akan memacu kembali semua kerja-kerja darurat, terutama proses evakuasi korban dan distribusi bantuan,” tambah Tarmizi.

Selain itu, Tarmizi juga mengungkapkan dampak beruntun yang ditimbulkan oleh banjir kali ini. “Banjir tidak hanya menggenangi rumah, tetapi juga semakin merusak infrastruktur vital seperti saluran drainase, area tambak, jalan, dan jembatan di seluruh Aceh Utara,” jelasnya. Yang lebih memprihatinkan, kerusakan akibat banjir sebelumnya bahkan belum sempat ditangani secara tuntas. “Kami masih berusaha membersihkan ‘bekas luka’ banjir lama, sekarang sudah harus menghadapi ‘luka baru’ yang datang bertubi-tubi,” keluhnya.

Meskipun berada di bawah tekanan, Tarmizi pantang menyerah. Dia langsung mengajak seluruh peserta rapat untuk fokus pada langkah konkret berikutnya. “Saat ini, prioritas utama kita adalah mempercepat pendataan semua korban banjir,” serunya. Tujuannya jelas: memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal dan seluruh kebutuhan dasar mereka terpenuhi dengan cepat. “Tim kami sudah mengirimkan data korban ke BNPB secara bertahap dan proses ini akan terus kami kejar sampai tuntas,” janji Tarmizi.

Di sisi lain, Tarmizi juga menyampaikan harapan mendesaknya kepada pemerintah pusat. “Kami sangat berharap BNPB dapat segera membangun hunian sementara (huntara) secara serentak di semua titik terdampak di Aceh Utara,” pintanya. Langkah ini, menurutnya, sangat krusial untuk menciptakan keadilan dan mencegah timbulnya kecemburuan sosial di antara sesama pengungsi yang sedang berjuang.

Sebagai informasi, gelombang banjir terbaru ini sebenarnya sudah mulai menunjukkan taringnya sejak Kamis (8/1/2026). Pada hari itu, banjir telah sukses merendam setidaknya empat kecamatan sekaligus. Sebagai contoh, Kecamatan Langkahan, Tanah Jambo Aye, Baktiya, dan Lhoksukon menjadi wilayah pertama yang harus berhadapan dengan air bah.

Khususnya di Kecamatan Lhoksukon, situasinya sangat memilukan. Tidak tanggung-tanggung, setidaknya empat desa langsung terendam dan terisolasi. Desa-desa tersebut adalah Desa Alue Empok, Krueng LT, Dayah LT, dan Desa Kumbang LT. Dengan kata lain, ratusan keluarga di sana kini terpaksa menghadapi kenyataan pahit: mengungsi untuk kedua kalinya dalam waktu yang sangat berdekatan.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version