Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Antrean Truk Mengular di TPA Putri Cempo, Pemkot Solo: “Tambah Eskavator Sekarang!”

SOLO, Cinta-news.com – Demi memerangi darurat sampah yang semakin menjadi-jadi, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akhirnya gerak cepat. Mereka secara resmi mendatangkan tambahan pasukan berat untuk menaklukkan tumpukan sampah yang sudah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.

Antrean Truk Mengular di TPA Putri Cempo, Pemkot Solo: "Tambah Eskavator Sekarang!"

Keputusan berani ini langsung mereka ambil setelah jalur masuk TPA berubah menjadi lautan antrean truk pengangkut sampah. Ratusan kendaraan terpaksa merayap pelan, menunggu giliran membuang muatan, sementara di depan mereka sampah sudah bertumpuk tak karuan.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, tanpa tedeng aling-aling langsung menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat. Ia tak menampik kekacauan di pintu masuk TPA memang sangat meresahkan. Namun, daripada sibuk mencari kambing hitam, ia memilih bertindak nyata.

Dengan tegas, Respati menerjunkan tiga alat berat super dan sederet dozer raksasa ke medan pertempuran. Bukan hanya sekadar datang, alat-alat ini langsung ia kerahkan untuk membabat habis sampah yang menghalangi akses truk.

“Terkait jalur masuk mobil-mobil pengangkut sampah yang macet parah, kita sudah siapkan tiga eskavator tangguh dan beberapa dozer andalan,” ujar Respati penuh semangat, Rabu (11/2/2026).

Namun, ia tak berhenti di situ. Strategi jangka panjang pun langsung ia susun. Respati berencana merombak total tata letak blok pembuangan. Ia akan memaksa sistem lama bekerja lebih keras dengan metode cut and fill di Blok D dan beberapa blok lain di Putri Cempo. Dengan cara ini, setiap truk yang masuk tidak perlu antre berlama-lama karena sampah langsung mendapat tempat yang layak.

Sambil menggarap hulu, Wali Kota juga menyoroti masalah kronis di hilir. Ia dengan gamblang mengajak seluruh warga Solo turun tangan memilah sampah dari rumah masing-masing. Menurutnya, selama ini petugas TPA kewalahan karena harus memilah gunungan sampah yang sudah membusuk.

Akibatnya, mesin pengolah sampah canggih berbasis teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dari PLTSa sering jebol dan mogok. Mesin sekelas itu ternyata tak berkutik menghadapi sampah rumah tangga yang masih tercampur aduk jadi satu. Proses penanganan pun ikut tersendat dan tak maksimal.

“Nanti akan kita sosialisasikan segera ke tingkat RT dan RW. Kita harus ubah kebiasaan lama. Pemilahan harus dimulai dari dapur, bukan dari TPA!” tegas Respati dengan nada penuh optimisme.

Sementara itu di lapangan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Herwin Tri Nugroho, mengaku lega bukan kepalang. Ia buka-bukaan mengenai kondisi pahit yang terjadi sebelumnya. Ia mengakui, selama ini TPA Putri Cempo hanya bertumpu pada satu eskavator tua yang kerap kelelahan. Wajar jika gunungan sampah terus membumbung tinggi.

“Kemarin kita hanya punya satu eskavator yang bisa berfungsi. Satu lawan ribuan ton sampah. Mustahil,” ungkap mantan Camat Laweyan itu jujur.

Kini, angin segar akhirnya berembus. Tiga eskavator baru plus dozer dan loader sudah tiba di lokasi. Mereka langsung bergerak serentak, berpesta pora memindahkan sampah dan membuka blokade. Suara gemuruh mesin alat berat ini seperti simfoni kemenangan bagi para petugas kebersihan.

Herwin pun tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Keputusan Wali Kota yang cepat tanggap ini, menurutnya, adalah penyelamat. Alat berat ini bukan sekadar besi tua, melainkan jantung dari pelayanan pengelolaan sampah harian di Putri Cempo.

“Alhamdulillah, perintah Pak Wali keluar cepat. Hari ini semua alat sudah datang dan langsung bekerja. Kebutuhan dasar pengelolaan sampah harian kita kini terpenuhi,” ujarnya lega.

Namun, Herwin tetap mengingatkan satu fakta pahit. Secanggih apa pun alat berat yang dikerahkan, ia akan kalah jika masyarakat masih bandel mencampur sampah. Ia kembali menekankan pentingnya revolusi pemilahan dari hulu.

Menurutnya, jika kesadaran memilah sudah menyala dari rumah, beban di TPA akan susut drastis. Mesin-mesin pengolah sampah bisa bernapas lega, lingkungan pun ikut terselamatkan.

“Kalau pemilahan sudah menjadi gaya hidup dari hulu, petugas tak perlu lagi pusing memilah tumpukan sampah busuk. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal disiplin kita bersama,” tandas Herwin mengakhiri pernyataannya.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *