Cinta-news.com – Wah, pecah lagi politik Amerika! Anggota DPR AS dari kubu Demokrat secara terbuka mendorong pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump. Mereka menyoroti dugaan serius bahwa sang presiden menunjukkan gejala penurunan kognitif atau demensia, dan kondisi ini dinilai sudah mengganggu kepemimpinannya. Kira-kira, apa lagi yang bakal dilakukan Trump selanjutnya?
Jamie Raskin Tembak Langsung dari Halaman Gedung Putih
Salah satu suara paling lantang dan memecah kesunyian datang dari anggota DPR Jamie Raskin. Ia dengan tegas meminta dokter Gedung Putih untuk segera melakukan tes kognitif menyeluruh terhadap Trump. Mengapa tiba-tiba? Permintaan mendesak ini muncul setelah publik menyaksikan serangkaian pernyataan Trump tentang perang AS dengan Iran yang menuai kontroversi panas.
“Dalam beberapa hari terakhir, bangsa ini telah menyaksikan sendiri pernyataan dan ledakan emosi Presiden Trump di depan publik yang semakin tidak koheren, mudah berubah, kasar, tidak masuk akal, dan mengancam,” tulis Raskin dalam surat resminya yang dikutip dari CNN pada Sabtu (11/4/2026). Surat ini sontak menjadi bola panas di lobi Kongres.
Raskin secara spesifik menyoroti unggahan Trump pada Minggu Paskah. Di hari yang seharusnya penuh damai itu, Dia malah melontarkan kata-kata kasar, termasuk seruan agar Iran membuka Selat Hormuz dengan cara yang mengancam. Belum cukup di situ, Dia juga mendapat kritik pedas karena membahas isu perang di hadapan anak-anak kecil saat acara Easter Egg Roll di Gedung Putih. Bayangkan, anak-anak yang polos itu tiba-tiba disuguhi skenario perang!
Satu pernyataan Trump yang paling mencengangkan dan bikin banyak orang geleng-geleng kepala adalah ketika ia menyebut bahwa “seluruh peradaban akan mati” jika Iran tidak menyetujui syarat kesepakatan yang ia ajukan. Pernyataan dramatis ini sontak memicu kekhawatiran massal tentang stabilitas mental sang presiden.
Gelombang Desakan Pemakzulan Mengguncang Capitol Hill
Dilansir dari The Independent pada Jumat (10/4/2026), desakan terhadap pemakzulan Trump ternyata tidak hanya bergema dari kalangan Demokrat saja. Secara mengejutkan, sejumlah tokoh dari kubu konservatif dan beberapa figur partai Republik juga mendukung langkah ini. Dengan kata lain, kubu Trump mulai retak dari dalam!
Bahkan, beberapa pihak yang paling vokal mengusulkan penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot Trump dari jabatannya. Namun perlu dicatat, langkah ekstrem ini memerlukan dukungan mayoritas anggota kabinet serta wakil presiden. Sampai berita ini diturunkan, belum ada indikasi kuat ke arah itu. JD Vance, sang wakil presiden, masih bungkam seribu bahasa.
Raskin kemudian menegaskan dengan nada tinggi bahwa dalam situasi negara yang sedang berperang—apalagi jika konflik dimulai tanpa persetujuan Kongres—publik harus punya keyakinan absolut bahwa presiden memiliki kapasitas mental yang memadai untuk menjalankan tugasnya. Jangan sampai tomol nuklir dipegang tangan yang labil.
Oleh karena itu, dengan segala kewenangan yang ia miliki, Raskin mendesak Trump untuk menjalani tes kognitif secara menyeluruh. Hasilnya pun harus diserahkan secara transparan kepada Kongres dan dijelaskan di depan publik. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi.
“Saya meminta Anda untuk melakukan penilaian kognitif komprehensif terhadap Presiden Donald Trump, memberikan hasil tersebut kepada Kongres, dan bersedia memberikan penjelasan kepada Kongres tentang temuan Anda,” tegas Raskin dalam suratnya yang keras dan tanpa kompromi.
Surat berapi-api dari Raskin ini muncul setelah sorotan terhadap kondisi mental Trump semakin meninggi dari berbagai penjuru. Bahkan tokoh lintas partai dalam beberapa hari terakhir mulai buka suara. Apakah ini awal dari keruntuhan pemerintahan Trump?
Gedung Putih Balas dengan Sindiran Pedas
Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa para pejabat di kabinet AS mempertimbangkan serius langkah Amandemen ke-25. Wakil Presiden JD Vance juga tidak menunjukkan dukungan sedikit pun. Namun, kabar baik bagi para pendukung Trump? Mungkin tidak.
Gedung Putih sendiri tampaknya tidak terpengaruh sedikit pun oleh surat Raskin. Ironisnya, mereka dulu sering menuduh mantan Presiden Joe Biden mengalami penurunan mental. Kini, giliran mereka yang kena getah.
Seorang juru bicara dengan percaya diri memuji ketajaman dan energi tak tertandingi Trump yang kini berusia 79 tahun. Menurut mereka, semua tudingan itu hanya omong kosong belaka.
“Ketajaman, energi tak tertandingi, dan keterbukaan Presiden Trump sangat kontras dengan empat tahun terakhir ketika Demokrat seperti Raskin menutupi penurunan mental dan fisik serius Joe Biden dari rakyat Amerika,” ujar juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, dengan nada sinis. Pernyataan ini jelas dibuat sebagai bantahan keras dan sekaligus serangan balik ke kubu lawan.
Sebagai informasi tambahan, Presiden Trump didiagnosis mengalami insufisiensi vena kronis, kondisi umum pada lansia yang bisa menyebabkan pembengkakan kaki. Ia juga sering terlihat memiliki memar di tangan yang biasanya ditutupi dengan riasan. Namun, dokter Gedung Putih sebelumnya tetap menyatakan bahwa presiden berada dalam kesehatan yang sangat baik. Tapi apakah kesehatan fisik saja cukup? Itulah yang kini menjadi pertanyaan besar seluruh rakyat Amerika.
Kisah pemakzulan ini jelas masih jauh dari kata usai. Apakah Trump akan menjalani tes kognitif? Atau justru ini akan memicu perang saudara politik di AS? Satu yang pasti: dunia sedang menyaksikan drama paling mencekam dari Gedung Putih.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











