Cinta-news.com – Pemerintah pusat bersama dinas terkait mendadak menggebrak publik dengan menyiapkan Pelabuhan Jangkar yang berlokasi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, sebagai sarana lintasan alternatif nan canggih menuju Pulau Dewata Bali. Langkah spektakuler ini sengaja jajaran otoritas eksekusi guna menyapu bersih potensi kemacetan parah yang kerap kali melumpuhkan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi sewaktu memasuki lonjakan momen libur panjang Natal 2026 serta Tahun Baru (Nataru) 2027 mendatang.
Oleh sebab itu, koridor pelayaran anyar yang menyeberangkan armada dari Pelabuhan Jangkar menuju Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali, saat ini sedang dipacu secara amat intensif melalui serangkaian proses pematangan persiapan dan simulasi uji coba teknis di lapangan.
Mengenai perkembangan proyek strategis tersebut, Slamet Santoso selaku Koordinator Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) wilayah Pelabuhan Jangkar menegaskan bahwa kesiapan teknis pelayaran perdana armada penyeberangan menuju Pelabuhan Celukan Bawang sejatinya sudah berada di titik puncaknya.
Lebih lanjut, Slamet membocorkan pada Kamis (29/10/2026) bahwa tingkat pematangan rencana strategis penyeberangan ini telah meroket hingga menyentuh angka 80 persen, di mana Pelabuhan Jangkar secara fisik sudah berdiri amat siap, sedangkan pihak Pelabuhan Celukan Bawang masih terus merampungkan sedikit pekerjaan perbaikan sarana infrastruktur penunjang.
Pasalnya, Slamet membeberkan alasan utama di balik manuver ini adalah demi menjebol potensi kemacetan mengular yang sempat menciptakan horor kelumpuhan lalu lintas pada musim liburan tahun 2025 lalu. Maka dari itu, otoritas pelabuhan bergerak ekstra cepat agar skenario buruk berupa antrean panjang kendaraan tersebut tidak sampai terulang kembali sewaktu momen liburan Nataru 2027 tiba.
Di samping itu, pihak pengelola sudah membidik jadwal uji coba pelayaran armada paling cepat pada pengujung November 2026. Berdasarkan skenario pemetaan operasional, Dermaga 2 bakal difokuskan penuh untuk mengangkut armada truk raksasa menuju Celukan Bawang Bali hingga Pelabuhan Lembar NTB, sedangkan Dermaga 1 secara khusus dipertahankan guna melayani rute kapal menuju Kabupaten Sumenep Madura.
Bahkan, Slamet secara optimistis kembali menegaskan bahwa apabila seluruh rangkaian proses penataan akhir berjalan tanpa hambatan berarti, maka agenda simulasi uji coba kapal penyeberangan akan langsung dilaksanakan paling cepat pada bulan November ini.
Dermaga Raksasa dan Kesiapan Kapal Super Luas
Sementara itu, jika menilik spesifikasi teknis kedalamannya, Dermaga 1 tercatat menyimpan kedalaman air laut sekitar 6 meter sewaktu mengalami kondisi surut terendah. Di sisi lain, Dermaga 2 menawarkan tingkat kedalaman yang jauh lebih mengagumkan yaitu menyentuh 8 meter pada kondisi serupa, sehingga para ahli menilai angka kedalaman tersebut amat sangat aman untuk disandari oleh kapal-kapal berukuran jumbo.
Selain keunggulan fisik dermaga, fasilitas pelataran parkir khusus truk kontainer di area Pelabuhan Jangkar ternyata mampu menampung kapasitas hingga 200 unit armada besar sekaligus. Tak berhenti di situ, otoritas penyeberangan juga telah menyiagakan amunisi minimal tiga unit kapal motor siap tempur guna mengarungi rute anyar tersebut secara berkelanjutan.
Alhasil, Slamet memperkirakan bahwa sewaktu operasional lintasan penyeberangan dari Jangkar ke Celukan Bawang berjalan secara normal dan stabil, ritme mobilitas harian bakal diramaikan oleh penyeberangan ratusan truk logistik setiap harinya.
Kalkulasi Waktu Tempuh dan Biaya yang Bikin Mikir
Kendati demikian, Tri Wahyono yang menjabat sebagai Koordinator UPT Pelabuhan Pengumpan Regional (PPR) Banyuwangi Wilayah Kerja Jangkar memberikan pandangan kritis bahwa langkah pengalihan arus kendaraan dari Ketapang ke Jangkar wajib dikalkulasi secara sangat matang dan terukur.
Sebab, Tri memaparkan fakta logis bahwa durasi pelayaran serta beban biaya perjalanan dari Jangkar menuju Celukan Bawang berpotensi membengkak lebih besar jika kita membandingkannya dengan rute pelayaran dari Ketapang menuju Celukan Bawang. Pasalnya, pelayaran dari Jangkar memakan waktu hingga dua atau tiga jam tergantung terjangan ombak dan cuaca, sedangkan rute Ketapang ke Celukan Bawang sejatinya dapat ditempuh amat singkat dalam kurun waktu 30 menit saja.
Meskipun terdapat kalkulasi perbedaan waktu tempuh, Nugroho selaku Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Situbondo menegaskan bahwa jajaran pemerintah daerah memberikan dukungan penuh 100 persen terhadap rencana pembukaan koridor laut dari Pelabuhan Jangkar menuju Pelabuhan Celukan Bawang tersebut.
Lebih jauh lagi, Nugroho membeberkan bahwa jajaran kementerian terkait saat ini masih terus mematangkan serta menggodok detail pembahasannya, namun sinyal hijau sudah terpancar kuat hingga 80 persen positif karena target utamanya memang murni demi mengurai penumpukan kendaraan di Pelabuhan Ketapang.
Di samping fungsi pengurai macet, Nugroho juga menaruh harapan besar agar rute Jangkar–Celukan Bawang kelak mampu berkembang menjadi urat nadi jalur penyeberangan yang sangat strategis secara bertahap. Apalagi, beliau mengingatkan bahwa lintasan penyeberangan dari Pelabuhan Jangkar menuju Pelabuhan Lembar di NTB terbukti sukses mengudara dan beroperasi dengan lancar selama kurun waktu 4 tahun terakhir.
Akses Jalan Strategis dan Suara Hati Sopir Truk
Secara logistik dan geografis, letak Pelabuhan Jangkar ini sebenarnya sangat dekat karena hanya berjarak sekitar 3 kilometer mengarah ke sisi utara dari koridor Jalan Nasional Pantura. Oleh karena itu, para pengemudi kendaraan umumnya cuma memerlukan waktu tempuh santai sekitar lima menit perjalanan untuk mencapai area pelabuhan.
Bahkan, lebar akses jalan darat yang membentang menuju area pelabuhan tersebut sudah mencapai rentang 5,5 meter hingga 6 meter. Luasan geometri jalan yang cukup memadai ini tentu saja memudahkan dua unit truk kontainer berukuran besar untuk berpapasan secara mulus tanpa mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Namun demikian, para pengguna jalan serta pengemudi armada logistik tetap disarankan untuk ekstra waspada terhadap potensi perlambatan akibat riuhnya aktivitas pasar rakyat yang memadati sepanjang jalan akses menuju Pelabuhan Jangkar setiap pagi hari, yakni mulai pukul 04.00 WIB hingga 07.30 WIB.
Melihat fenomena perkembangan ini, Ahmad Solihin (50), seorang sopir truk berpengalaman yang saban hari mengarungi jalur Pelabuhan Jangkar menuju Pelabuhan Lembar Nusa Tenggara Barat (NTB), melontarkan sambutan yang sangat hangat terhadap rencana pembukaan rute baru Jangkar–Celukan Bawang ini.
Sebab, bagi Solihin, rute anyar tersebut sanggup menjadi sekoci penyelamat paling ampuh sewaktu kemacetan horor mengepung Pelabuhan Ketapang. Walau begitu, pengemudi senior ini sangat berharap agar pihak pengelola dapat memastikan besaran tarif tiket serta kepastian waktu tempuh secara jelas, sehingga para sopir bisa merencanakan kalkulasi perjalanan dengan matang tanpa perlu khawatir biaya operasional logistik mereka mendadak membengkak di tengah jalan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
