Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

2.120 Rumah Terendam, Banjir di Lumajang Meluas ke Kecamatan Baru

LUMAJANG, Cinta-news.com – Bencana banjir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ternyata tidak berhenti begitu saja! Malahan, bencana ini justru meluas dengan cepat ke Kecamatan Rowokangkung pada hari Sabtu, 1 November 2025. Akibatnya, total rumah yang terendam banjir melonjak drastis menjadi 2.120 unit! Bayangkan, dalam sekejap, ribuan keluarga harus berhadapan dengan genangan air yang menginvasi tempat tinggal mereka.

Kemudian, pada Sabtu pagi itu, air bah dengan ganasnya menerobos masuk ke tiga desa di Kecamatan Rowokangkung. Ketiga desa yang menjadi korban ini adalah Desa Rowokangkung, Desa Nogosari, dan Desa Sidorejo. Akhirnya, sebanyak 895 rumah warga di tiga desa tersebut pun tak luput dari terjangan banjir. Air yang datang tiba-tiba ini memaksa warga menyelamatkan harta benda mereka secepat mungkin.

Sebelumnya, bencana serupa sudah lebih dulu melanda kawasan tetangga. Tepatnya, Kecamatan Jatiroto telah menjadi korban dengan 1.225 rumah warga yang terendam banjir. Dengan kata lain, dua desa di Jatiroto, yaitu Desa Rojopolo dan Kaliboto Kidul, telah merasakan dahsyatnya banjir sebelum Rowokangkung. Sebagai gambaran, Desa Rojopolo menanggung beban terberat dengan 1.185 rumah yang terdampak, sementara Desa Kaliboto Kidul melaporkan 40 rumah yang menjadi korban.

Oleh karena itu, ketika kita menjumlahkan kedua data tersebut, kita mendapatkan total kerusakan yang sangat mencengangkan. Akhirnya, total rumah yang terdampak banjir di Lumajang mencapai 2.120 unit. Angka fantastis ini dengan jelas menggambarkan betapa seriusnya situasi darurat yang sedang dihadapi oleh masyarakat Lumajang saat ini.

Lantas, seberapa dalam genangan air yang harus dihadapi warga? Camat Rowokangkung, Nira Fitri Aviana, dengan tegas menjelaskan bahwa ketinggian air berkisar antara 60-80 sentimeter. “Ada 3 desa yang terendam banjir,” ujar Nira di Desa Sidorejo Lumajang, Sabtu (1/11/2025), sambil menambahkan, “paling banyak di Desa Sidorejo ada 766 kepala keluarga yang terdampak.” Artinya, sebagian besar warga Sidorejo harus berjuang melawan air yang hampir setinggi pinggang orang dewasa.

Lalu, apa sebenarnya yang memicu banjir yang begitu luas ini? Nira kemudian memaparkan dua faktor utama yang menjadi biang keladi. Pertama, tentu saja karena curah hujan yang sangat tinggi. Namun, yang patut dicatat, banjir ini juga disebabkan oleh kiriman air dari Jatiroto yang juga sedang mengalami banjir. Dengan demikian, air dari hulu dan hujan deras secara bersamaan membanjiri kawasan Rowokangkung. “Ini air dari Jatiroto yang banjir kemarin,” jelas Nira, “terus sore kemarin juga hujan cukup deras, jadi air meluap.”

Selain itu, terdapat masalah struktural yang memperparah keadaan. Sungai Banter yang berada di dekat permukiman warga di Desa Sidorejo ternyata mengalami sedimentasi yang cukup banyak. Akibatnya, sungai ini sangat membutuhkan normalisasi. Dengan kata lain, pendangkalan sungai membuat kapasitas tampung air berkurang drastis, sehingga air dengan mudahnya meluap ke pemukiman warga. Sayangnya, masalah klasik ini belum tertangani sebelum bencana datang.

Kemudian, bagaimana dengan kondisi warga saat ini? Nira menerangkan dengan prihatin bahwa saat ini warga di tiga desa terdampak banjir Rowokangkung sangat membutuhkan bantuan berupa air bersih. Pasalnya, sumur-sumur warga telah terendam banjir dan terkontaminasi. Oleh karena itu, pasokan air minum yang bersih menjadi barang langka yang sangat dibutuhkan.

Tidak hanya itu, warga juga secara mendesak membutuhkan makanan siap saji. Mengapa? Karena dengan kondisi rumah yang terendam dan peralatan masak yang tidak bisa digunakan, mereka sama sekali tidak bisa memasak. “Yang dibutuhkan warga makanan karena dari pagi tidak bisa masak dan belum makan,” pungkas Nira dengan suara berat, “termasuk pasokan air bersih untuk minum.”

Singkatnya, krisis kemanusiaan sedang melanda Lumajang. Ribuan keluarga tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga terjebak dalam situasi tanpa akses ke kebutuhan pokok paling dasar: makanan dan air bersih. Bencana banjir ini dengan jelas menunjukkan kerentanan kita ketika infrastruktur dan sistem peringatan dini tidak berfungsi optimal. Mari kita bersama-sama mengulurkan tangan untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Lumajang, karena bantuan Anda saat ini sangat mereka tunggu!

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *