Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Dubes Iran untuk Saudi Bantah Terlibat dalam Insiden Kedubes AS di Riyadh

RIYADH, Cinta-news.com — Dunia internasional masih terus dihebohkan dengan serangan drone yang menghantam kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh. Di tengah spekulasi yang berkembang, Duta Besar Iran untuk Arab Saudi, Alireza Enayati, angkat bicara. Dengan nada tegas, ia langsung membantah keras semua tuduhan yang mengarah ke negaranya.

Dalam pernyataan eksklusif kepada AFP pada Kamis (5/3/2026), Enayati merespons klaim pejabat Arab Saudi yang menyebut Iran sebagai dalang di balik serangan tersebut. Ia tidak tinggal diam. “Kami konfirmasi dengan jelas: Iran sama sekali tidak punya peran dalam serangan terhadap kedutaan AS di Riyadh,” ujarnya.

Enayati kemudian menjelaskan bagaimana sistem komando di negaranya bekerja. Ia menekankan bahwa Teheran selalu bersikap transparan dalam setiap operasi militer. “Jika komando operasi di Teheran memutuskan untuk menyerang suatu tempat, mereka akan bertanggung jawab penuh dan mengumumkannya secara terbuka,” imbuhnya.

Api memang sempat berkobar di area kompleks kedutaan setelah serangan tersebut. Namun hingga kini, tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Penyidik masih bekerja keras mengungkap fakta di lapangan.

Tidak hanya serangan ke kedubes, hubungan kedua negara tetangga ini kembali diuji. Riyadh juga menuding Teheran melancarkan serangan drone ke kilang minyak Ras Tanura, salah satu kilang terbesar di Timur Tengah. Namun sekali lagi, Enayati membantah habis-habisan. “Tuduhan itu tidak benar. Semua tidak berdasar,” tegasnya.

Lantas apa yang sebenarnya terjadi di kawasan Teluk belakangan ini? Semua bermula dari serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Iran tentu tidak tinggal diam. Mereka langsung membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah aset AS di Timur Tengah.

Sejak Sabtu (28/2/2026) pekan lalu, situasi kian mencekam. Rentetan serangan menewaskan setidaknya 13 orang di kawasan Teluk. Dari jumlah tersebut, tujuh orang merupakan warga sipil yang tidak terlibat konflik. Mereka menjadi korban dari eskalasi kekerasan yang terus berlangsung.

Meski demikian, Enayati menolak narasi bahwa Iran sedang mengobarkan perang regional. Ia ingin meluruskan persepsi publik. “Ini bukan perang regional dan ini bukan perang kami. Pihak lain yang memaksakan perang ini masuk ke kawasan,” ungkapnya.

Di tengah ketegangan yang memuncak, sikap Arab Saudi justru menarik perhatian. Di satu sisi, mereka berulang kali memperingatkan akan membela diri dan membalas setiap serangan yang masuk ke wilayah kedaulatan mereka. Namun di sisi lain, Riyadh tetap membuka pintu diplomasi. Mereka terus berupaya meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington.

Bahkan dalam langkah yang cukup mengejutkan, Arab Saudi berkomitmen untuk tidak membiarkan wilayah udara, darat, maupun perairannya digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran. Ini menunjukkan posisi independen Riyadh di tengah tekanan internasional.

Komitmen tersebut mendapat apresiasi hangat dari Teheran. “Kami menghargai pernyataan Arab Saudi yang terus kami dengar. Mereka menegaskan tidak akan membiarkan wilayah mereka digunakan untuk agresi terhadap Iran. Kami menyambut baik dan menegaskan kembali dukungan kami terhadap posisi ini,” kata Enayati.

Perlu diketahui, hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi baru pulih pada Maret 2023 lalu. China bertindak sebagai mediator dalam kesepakatan bersejarah tersebut. Sebelumnya, kedua negara memutuskan hubungan total sejak 2016. Saat itu, massa menyerang Kedutaan Arab Saudi di Teheran sebagai protes atas eksekusi ulama Syiah terkemuka, Nimr al-Nimr, oleh otoritas Saudi.

Kini di tengah situasi yang memanas, pesan dari Dubes Enayati cukup jelas: Iran tidak ingin mencari masalah dengan Arab Saudi. Mereka justru ingin menjaga hubungan yang baru terbangun ini tetap hangat. Ini menjadi sinyal penting bahwa meskipun perang masih berkecamuk, diplomasi tetap bisa berjalan.

Publik internasional kini menanti hasil penyelidikan siapa dalang di balik serangan ke Kedubes AS dan kilang minyak Ras Tanura. Teheran sudah membantah semua tuduhan. Mereka membuka pintu untuk kerja sama, bukan konfrontasi.

Sementara itu, semua mata tertuju pada langkah Riyadh dan Washington selanjutnya. Akankah eskalasi terus berlanjut? Atau justru ada celah damai yang bisa dimanfaatkan? Yang pasti, kawasan Teluk sedang berada di ujung tanduk. Setiap pernyataan bisa menjadi pemicu atau justru peredam konflik.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *