Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

27 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, Balasan atas Tewasnya Pemimpin Tertinggi

TEHERAN, Cinta-news.com – Minggu (1/3/2026) pagi, langit Timur Tengah berubah menjadi lautan api! Dentuman dahsyat menggelegar secara bersamaan di 27 pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di sejumlah negara Teluk. Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah Iran melancarkan operasi balasan yang menghancurkan atas agresi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Pangkalan Militer AS

Wartawan AFP yang berada di lokasi melaporkan, mereka mendengar suara ledakan keras di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Tak lama setelahnya, situasi serupa terjadi di Doha, Qatar, dan Manama, Bahrain. Warga panik berlarian ketika sirene peringatan bahaya meraung-raung di berbagai wilayah permukiman, menandakan bahwa kawasan yang selama ini menjadi episentrum kekayaan minyak dunia itu kini berubah menjadi medan pertempuran.

SERANGAN BERUNTUN MENGGUNCANG TELUK

Sehari sebelumnya, Iran sudah lebih dulu menghujani ibu kota UEA, Abu Dhabi, dengan rentetan rudal. Mereka menyasar tak hanya pangkalan militer, tetapi juga infrastruktur vital yang menopang kehidupan negara-negara Teluk. Bandara-bandara internasional utama turut menjadi incaran dalam operasi militer besar-besaran ini. Menariknya, Iran dengan sengaja mengecualikan Oman dari daftar target karena negara itu selama ini konsisten berperan sebagai mediator perdamaian di kawasan.

Situasi mengerikan ini langsung memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik Timur Tengah. Kawasan yang selama ini dipandang sebagai surga investasi dan tempat paling aman di tengah ketegangan regional itu, kini bergetar hebat menghadapi kenyataan pahit.

Kementerian Pertahanan UEA dengan nada terkejut mengumumkan, Iran menembakkan tidak kurang dari 137 rudal balistik dan 209 drone kamikaze ke wilayah negara mereka. Jumlah itu merupakan salah satu serangan drone terbesar dalam sejarah konflik modern!

Asap hitam pekat membubung tinggi hingga terlihat jelas di sekitar bangunan-bangunan ikonik Dubai. Penduduk setempat dan turis yang sedang berlibur menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Palm Jumeirah dan Burj Al Arab yang megah itu kini berlatar belakang kepulan asap raksasa. Pemandangan yang dulu menjadi latar foto Instagram, kini menjadi saksi bisu keganasan perang.

Di bandara Dubai dan Abu Dhabi, otoritas setempat mengonfirmasi adanya insiden fatal. Mereka melaporkan satu orang tewas dalam serangan tersebut, meskipun belum merinci identitas korban. Sementara itu, sumber terpercaya menyebut Bandara Kuwait juga tidak luput dari amukan rudal Iran, menambah panjang daftar infrastruktur sipil yang terkena imbas konflik.

Media Pemerintah Iran dengan penuh semangat mengabarkan, Teheran kembali meluncurkan gelombang serangan lanjutan pada Minggu ini. Kali ini, mereka mengarahkan rudal dan drone ke jantung wilayah Israel. Serangan ini mereka lakukan sebagai bentuk pembalasan atas operasi brutal AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Televisi Pemerintah Iran dengan lantang menyebutkan, mereka berhasil menyasar 27 pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Tak hanya itu, markas besar militer Israel dan kompleks industri pertahanan strategis di Tel Aviv juga mereka hancurkan dalam operasi militer yang dinamai “Janji Keras” ini.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) segera mengumumkan dimulainya operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran. Mereka mengeluarkan pernyataan resmi sesaat setelah mengonfirmasi berita duka wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Kantor berita Fars menerbitkan pernyataan tersebut pada Minggu pagi. Dalam pengumuman yang membuat dunia terperangah itu, IRGC menyatakan operasi militer akan mereka mulai dalam hitungan menit. Mereka menginstruksikan seluruh unit tempur untuk bersiap melancarkan pukulan telak.

“Operasi ini akan menghancurkan wilayah pendudukan dan pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah!” demikian pernyataan tegas IRGC seperti dilaporkan Al Jazeera.

Dalam pernyataan terpisah yang sarat emosi, IRGC bersumpah tidak akan pernah memaafkan pihak-pihak yang mereka sebut “para pembunuh” Pemimpin Iran berusia 86 tahun itu. Mereka berjanji akan mengejar para pelaku ke mana pun mereka bersembunyi.

“Tangan pembalasan bangsa Iran tidak akan pernah melepaskan mereka! Hukuman yang berat dan tegas akan kami jatuhkan. Para pembunuh Imam Umat pasti akan menyesali perbuatan mereka selamanya!” demikian bunyi pernyataan menggelegar dari Garda Revolusi.

IRGC lebih lanjut menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Khamenei. Mereka mengakui kehilangan seorang pemimpin besar yang telah membimbing revolusi selama puluhan tahun.

“Kita semua berduka atas kepergian seorang pemimpin besar yang tak tergantikan,” tulis pernyataan haru yang dimuat Fars.

Di akhir pernyataan, IRGC menegaskan komitmen mereka untuk tetap berdiri tegak. Mereka berjanji akan menghadapi semua konspirasi, baik dari dalam negeri maupun dari kekuatan asing yang mencoba memanfaatkan situasi.

Dengan eskalasi dramatis ini, dunia kini menahan napas. Para analis militer memprediksi Amerika Serikat pasti akan merespons dengan kekuatan penuh. Pertanyaannya sekarang, akankah konflik ini meledak menjadi Perang Dunia III? Satu hal yang pasti, Timur Tengah telah memasuki babak baru yang lebih mengerikan dari sebelumnya.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *