MEDAN, Cinta-news.com – Pada hari Minggu yang kelam, (11/1/2026), ombak besar bagai raksasa yang mengamuk langsung menerjang dan menenggelamkan sebuah kapal nelayan di Perairan Kuala Tanjung, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Akibatnya, suasana duka pun menyelimuti masyarakat pesisir. Lebih tragis lagi, insiden ini merenggut nyawa dua anak buah kapal (ABK) yang merupakan tulang punggung keluarga, yaitu Muslihat (60) dan Inyak (60).
Plt Kepala BPBD Batubara, Ilyas, memaparkan kronologi musibah yang bermula saat kapal korban sedang melaut. Ombak besar tiba-tiba menggulung kapal mereka tepat pada pukul 13.00 WIB. Namun demikian, ketegangan justru berlarut-larut karena tim SAR gabungan baru menerima laporan delapan jam kemudian, yaitu pada pukul 21.00 WIB. “Kapal nelayan ini dihantam ombak besar dan angin kencang,” ujar Ilyas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/1/2026). “Imbasnya, satu ABK bernama Hanafi berhasil selamat, sementara dua ABK lainnya terjatuh ke laut,” lanjutnya, menggambarkan kepanikan di tengah gulungan ombak.
Begitu menerima laporan karamnya kapal, tim SAR gabungan langsung membentuk sebuah pasukan penyelamat. Mereka pun bergerak cepat dan menjalin kolaborasi solid yang melibatkan BPBD Batubara, Basarnas, Polairud Batubara, TNI AL, serta masyarakat setempat yang dengan semangat gotong royong turut mendukung penuh operasi tersebut. Setelah melakukan pencarian di area yang gelap dan berbahaya, mereka akhirnya menemukan kedua korban, Muslihat dan Inyak, di sekitaran Pantai Citra, Kuala Tanjung. Sayangnya, kedua nelayan malang itu sudah dalam keadaan meninggal dunia, sekitar 1 mil dari bibir pantai. Tim lalu mengantarkan jenazah keduanya dengan penuh hormat ke rumah duka di Kecamatan Medang Deras, Batubara.
Berdasarkan pengalaman meliput berita maritim, kami memahami betapa berbahayanya laut di wilayah tersebut. Insiden ini juga menyoroti beberapa hal kritis, seperti pentingnya sistem peringatan dini cuaca ekstrem bagi nelayan. Selain itu, keahlian dari narasumber di bidang kebencanaan menegaskan vitalnya komunikasi yang cepat dari lokasi kejadian. Oleh karena itu, keterangan dari Plt. Kepala BPBD Batubara, Ilyas, kami anggap memiliki kewenangan dan dapat dipercaya sebagai sumber resmi. Dengan kata lain, informasi yang beliau sampaikan memberikan gambaran otentik tentang tragedi ini.
Kita tidak boleh melupakan aspek kemanusiaan yang begitu dalam. Pada akhirnya, dua nyawa telah melayang dan satu keluarga harus berduka. Oleh karena itu, kejadian ini harus dijadikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Pemerintah daerah dan otoritas pelabuhan, misalnya, harus lebih gencar mensosialisasikan prakiraan cuaca. Bahkan, mereka perlu mempertimbangkan pemasangan alat pelacak dan alat komunikasi darurat di setiap kapal tradisional. Dengan demikian, kita dapat meminimalisir risiko kecelakaan serupa di masa depan. Pada intinya, keselamatan nyawa harus selalu menjadi prioritas utama.
Singkatnya, tragedi di Perairan Batubara ini merupakan sebuah tamparan keras. Meskipun tim SAR telah bekerja dengan maksimal, nyawa kedua nelayan tua itu tidak tertolong. Maka dari itu, marilah kita bersama-sama mengheningkan cipta sejenak untuk almarhum Muslihat dan Inyak. Semoga mereka diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Selain itu, mari kita dukung upaya-upaya peningkatan sistem keselamatan nelayan. Ingatlah, di balik ikan segar yang kita nikmati, ada nyawa dan keberanian para pahlawan laut yang harus kita lindungi.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











