Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Hukum Internasional? Bukan Urusan Saya! Trump Akui Hanya Ada Satu ‘Rem’ untuk Ambisinya

Cinta-news.com – Washington diguncang pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump! Menurut laporan eksklusif New York Times pada Kamis, 8 Januari 2026, Trump menyatakan dirinya tidak membutuhkan hukum internasional. Dia menegaskan hanya satu “rem” yang mengendalikan kekuasaannya.

“Ya, hanya ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Hanya itu yang menghentikan saya,” kata Trump tanpa tedeng aling-aling. Dia melanjutkan, “Saya tidak butuh hukum internasional. Saya tidak berniat menyakiti orang lain.” Presiden seolah menempatkan pertimbangan pribadinya di atas semua peraturan global.

Pernyataan ini melengkapi serangkaian aksinya. Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump telah berulang kali menabrak batasan konstitusional. Dia memecat kepala lembaga independen. Dia juga berusaha menulis ulang Amandemen ke-14 Konstitusi AS. Bahkan, dia mencoba menghukum hakim federal yang memberikan proses hukum adil kepada imigran.

Kini, keputusan militernya di Greenland membuat para pemimpin dunia khawatir. Dia melancarkan operasi tanpa persetujuan Kongres. Dia juga mengancam mengambil alih wilayah otonomi Denmark tersebut. Di tengah kekhawatiran itu, Trump justru memberi penjelasan berbelit. “Itu tergantung definisi hukum internasional versi Anda,” tegasnya dengan gaya provokatif.

Lebih lanjut, Trump lalu membeberkan strategi andalannya. Secara khusus, dia sengaja mengandalkan reputasinya yang sulit ditebak. Bahkan, dia secara aktif menjadikan kesiapannya mengerahkan aksi militer sebagai alat politik. Ambil contoh, seperti ketika dia memerintahkan pengeboman situs nuklir Iran; aksi itu sengaja dia rancang untuk memaksa negara lain menuruti keinginannya. Dari sini, komentarnya jelas memperlihatkan keyakinannya. Baginya, penggunaan kekuatan militer dan tekanan ekonomi jauh lebih efektif daripada sekadar mengikuti perjanjian internasional.

Memang, obsesi Trump pada “kepemilikan” menjadi contoh nyata. Contohnya, terkait Greenland, dia bersikukuh wilayah itu harus menjadi bagian AS. Pasalnya, “Kepemilikan sangat penting. Itu dibutuhkan secara psikologis untuk kesuksesan,” jelasnya. Selain itu, dia menambahkan, “Kepemilikan memberi Anda elemen spesial. Pada dasarnya, itu tidak akan Anda raih hanya dengan menandatangani dokumen.”

Dengan demikian, bagaimana dengan komitmen AS kepada sekutunya? Sebagai contoh, saat ditanya apakah kesetiaan pada NATO lebih besar dari keinginan menganeksasi Greenland, Trump memberi jawaban menggantung. Faktanya, dia hanya menyikapinya sebagai sebuah “pilihan”. Oleh karena itu, respon ini pada akhirnya membuat negara anggota NATO merasa was-was.

Akibatnya, para pengamat memprediksi periode ketidakpastian ekstrem. Gaya kepemimpinan Trump yang mengabaikan multilateralisme akan menciptakan gejolak global. Banyak pihak mempertanyakan, apakah “moralitas pribadi” seorang pemimpin cukup adil untuk menjadi penjaga perdamaian dunia.

Pernyataan Trump adalah cerminan filosofi “America First” yang radikal. Kepentingan dan penilaian subjektif AS dia tempatkan di atas segalanya. Dunia kini menunggu keputusan “bermoral” apa lagi yang akan keluar dari Gedung Putih. Mereka berharap batasan institusional yang tersisa dapat bertahan dari ambisi satu orang ini.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *