PARIS, Cinta-news.com — Atmosfer mencekam kini benar-benar menyelimuti jantung Kota Paris ketika para pemilik toko lokal mendadak mengambil langkah ekstrem dengan memborong senjata pelindung diri secara massal demi mengantisipasi gelombang demonstrasi susulan yang rencananya memuncak pada Sabtu (24/10/2026).
Oleh karena itu, para pedagang terpaksa mengambil tindakan nekad tersebut setelah aksi anarki pada akhir pekan lalu menyisakan trauma mendalam akibat ribuan tempat usaha hancur berantakan serta menjadi sasaran empuk penjarahan liar.
Mengutip laporan resmi kantor berita AFP pada Kamis (22/10/2026), seorang bos toko senjata terkemuka di Paris bernama Yves Gollet membocorkan bahwa angka penjualan senjata legal di tokonya langsung melonjak tajam hingga 1000 persen alias 10 kali lipat hanya dalam hitungan hari pasca kerusuhan membara 17 Oktober kemarin.
Selanjutnya, Gollet menegaskan bahwa mayoritas konsumen yang berbondong-bondong memadati tokonya merupakan para pengusaha ritel lokal yang diselimuti rasa cemas luar biasa akan ancaman penjarahan susulan saat aksi massa kembali meledak di jalanan.
Malahan, kepanikan massal tersebut memicu aksi borong habis hingga stok peluru karet dan senjata flash-ball yang sangat ampuh menumbangkan penjarah tanpa membunuh langsung ludes tak tersisa di pasaran akibat tingginya tingkat ketakutan warga.
Bahkan, Gollet menambahkan fakta mengerikan bahwa beberapa pedagang malang sebelumnya sempat terjebak dalam kondisi mencekam di dalam ruang sempit toko mereka sendiri bersama gerombolan penjarah yang beringas.
Sementara itu di sudut kota lainnya, seorang pemilik toko kacamata yang sengaja merahasiakan identitasnya mengakui bahwa ia nekat memborong semprotan merica dosis tinggi demi membela diri apabila para perusuh kembali membobol etalase perusahaannya secara paksa.
Ribuan Toko Jadi Sasaran Empuk Kerusuhan Massal
Pasalnya, ketakutan hebat yang melanda para pemilik usaha ini memang sangat beralasan jika melihat kembali kehancuran total yang meluluhlantakkan kota Paris dan berbagai wilayah sekitarnya pada Sabtu (17/10/2026) lalu.
Terlebih lagi, gelombang amuk massa tersebut meletus di tengah-tengah demonstrasi raksasa berskala nasional yang mengerahkan lebih dari 500.000 demonstran untuk menuntut keadilan atas lonjakan biaya hidup yang makin membakar kantong warga.
Akibatnya, bentrokan membara tersebut langsung berujung pada aksi kekerasan masif yang mengakibatkan tak kurang dari 3.000 toko ritel di seluruh penjuru Prancis hancur diserang serta diganyang habis-habisan oleh perusuh.
Oleh sebab itu, pihak asosiasi perdagangan nasional langsung menghitung estimasi total kerugian materiil akibat kehancuran massal tersebut yang diprediksi menembus angka fantastis hingga ratusan juta euro.
Lebih spesifik lagi, pihak kepolisian Paris mencatat rekor kelam di mana sebanyak 450 toko di pusat kota mengalami kerusakan fisik sangat parah, sementara 228 toko lainnya ludes dijarah tanpa sisa oleh massa yang mengamuk.
Oleh karena situasi makin memanas, para pedagang yang sigap kini memaku barikade papan kayu tebal untuk membentengi pintu utama dan etalase kaca toko mereka menjelang gelombang unjuk rasa berikutnya.
Tak heran jika pemandangan benteng kayu tersebut kini menghiasi kawasan bisnis Boulevard Magenta di bagian tengah-timur Paris, lokasi yang pekan lalu menjadi korban amukan paling parah dari gerombolan massa bertopeng.
Di samping itu, sisa-sisa jejak pertempuran jalanan masih berhamburan jelas di atas trotoar kota, mulai dari serpihan kaca tajam yang berserakan hingga kemasan botol cairan garam steril bekas membilas perihnya gas air mata.
Pedagang Alami Trauma Berat, Sebagian Warga Memilih Kabur dari Paris
Maka dari itu, tidak mengherankan apabila jajaran pemilik bisnis di pusat kota masih mengidap trauma psikologis yang sangat berat setelah menyaksikan secara langsung aksi kejam para perusuh pekan lalu.
“Sabtu lalu terasa bagaikan mimpi buruk yang sangat mengerikan, bahkan saya benar-benar mengira nyawa saya akan melayang saat itu juga,” ungkap Jose Guedj, seorang penata rambut lokal yang pasrah melihat pintu kaca salon mewahnya hancur berantakan diserang massa.
Meskipun demikian, Guedj tetap mencoba menaruh harapan besar agar tragedi kelam tersebut tidak terulang kembali karena yakin aparat pemerintah sudah mengantongi evaluasi ketat dari insiden sebelumnya.
Di sisi lain, seorang kakek pemilik toko cat berusia 60 tahun bernama Emmanuel Renales memilih langkah terobosan dengan cara nekat bermalam dan menginap di dalam tokonya sejak kerusuhan meledak demi menjaga asetnya.
“Jujur saja, sampai detik ini saya masih heran dan tidak habis pikir mengapa para perusuh itu tega mengincar kaleng cat serta alat bangunan untuk mereka jarah,” keluh Renales dengan nada penuh kekecewaan.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Paris langsung mengeluarkan imbauan resmi agar seluruh lapisan masyarakat memperketat kewaspadaan serta segera mengamankan tempat sampah, sepeda, hingga perabotan luar ruangan agar tidak disalahgunakan perusuh.
Namun sayangnya, imbauan resmi dari pihak berwenang tersebut ternyata belum mampu mengusir rasa cemas dan kepanikan yang terlanjur merasuk ke dalam jiwa warga kota.
Bahkan, Pierre-Emmanuel Duprat selaku ketua asosiasi warga dan pedagang wilayah Les Halles menegaskan bahwa dirinya masih terus membayangkan potensi bahaya, meskipun ia memprediksi gelombang demonstrasi berikutnya tidak akan separah kerusuhan lalu.
“Pasalnya, pada hari Sabtu kemarin kami semua terpaksa mengurung diri di dalam ruangan tertutup selama 12 jam penuh hanya untuk menyelamatkan diri dari pekatnya kepungan gas air mata,” kenang Duprat dengan raut wajah cemas.
Akibat rasa takut yang luar biasa tersebut, seorang nenek warga lokal berusia 82 tahun bernama Laurence akhirnya memilih keputusan drastis untuk melarikan diri dan mengungsi keluar dari Kota Paris selama akhir pekan.
“Oleh karena itu, menginap tenang di luar kota Paris sembari menikmati suasana sejuk dan berjalan-jalan santai di tengah hutan terasa jauh lebih aman bagi keselamatan saya,” pungkas Laurence menutup pembicaraan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











