Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Gelombang Demo di Perancis Berujung Penjarahan Massal dan Perusakan Fasilitas Publik

Cinta-news.com – Suasana mencekam menyelimuti kehidupan warga Perancis pada Minggu pagi (18/10/2026), tatkala mereka menyaksikan secara langsung reruntuhan jalanan yang porak-poranda, puing-puing sisa penjarahan massal, hingga kepulan asap hitam yang masih membumbung tinggi akibat aksi pembakaran di mana-mana.

Demo di Perancis

Nyatanya, bencana sosial di pagi hari ini merupakan buntut panjang dari bentrokan amat sengit antara pasukan kepolisian dan ratusan ribu demonstran yang menumpahkan amarah demi menuntut penurunan harga serta biaya hidup yang kian melambung tinggi di seantero negeri.

Lantas, eskalasi gelombang kekerasan ini langsung menyebar cepat ke berbagai sudut kota, padahal pergerakan massa tersebut bermula dari gelombang aksi protes mahasiswa yang sudah berlangsung secara masif selama berminggu-minggu sebelumnya.

Apalagi, pertempuran jalanan yang sangat mengerikan ini pecah tepat di tengah-tengah atmosfer panggung politik nasional yang sedang memanas membara, mengingat gelaran pesta demokrasi pemilihan umum untuk menentukan sosok penerus Presiden Emmanuel Macron bakal berlangsung sekitar enam bulan lagi pada April dan Mei 2027.

Padahal, gerakan publik yang pada awalnya berjalan sebagai unjuk rasa damai demi menyuarakan penderitaan ekonomi rakyat, justru mendadak berbelok tajam menjadi arena pertempuran fisik yang sangat intensif dan sulit terkontrol.

Sementara itu, data resmi Kementerian Dalam Negeri Perancis mencatat kehadiran sekitar 550.000 demonstran yang turun ke jalanan, namun jajaran serikat pekerja CGT justru meyakini bahwasanya jumlah lautan manusia dalam aksi tersebut sebenarnya sudah menembus angka fantastis 800.000 orang.

Oleh sebab itu, demi membendung serbuan gila-gilaan dari para pengunjuk rasa yang terus melemparkan berbagai benda tumpul serta tembakan kembang api secara membabi buta, jajaran aparat kepolisian terpaksa membalasnya dengan menyemprotkan meriam air bertekanan tinggi dan tembakan gas air mata secara beruntun.

Sayangnya, sebuah insiden tragis yang sangat memilukan tidak dapat dihindarkan di Kota Saint-Etienne, kawasan Perancis Selatan, setelah tangan kanan seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun terputus hancur akibat terkena ledakan granat pengendali massa milik petugas.

Melihat situasi yang makin tidak terkendali ini, Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu langsung melontarkan kecaman amat keras terhadap tingkat intensitas kekerasan ekstrem yang melumpuhkan berbagai wilayah kota tersebut.

“Sungguh sebuah keajaiban besar apabila jumlah korban jiwa tidak melambung lebih tinggi dari saat ini,” tegas Lecornu dengan nada prihatin, seraya mengonfirmasi fakta bahwa aparat keamanan telah berhasil meringkus 1.200 perusuh dan mencatat sedikitnya 150 personel kepolisian menderita luka-luka.

Aksi Penjarahan Massal Makin Gila-gilaan Meneror Warga Perancis

Lantaran memanfaatkan situasi demonstrasi yang kacau balau, kawanan pemuda bertopeng berkeliaran bebas meneror jalanan, melakukan aksi pembakaran fasilitas publik, menantang pertempuran terbuka dengan polisi, hingga nekat membobol deretan toko yang telah terkunci rapat.

Tak heran apabila Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire ikut menyampaikan rasa duka dan prihatinnya, sebab beberapa koridor utama di pusat ibu kota kini benar-benar hancur lebur akibat ulah anarkis kelompok pemuda bertopeng yang membakar mobil-mobil warga dan menguras habis isi toko.

Bahkan, hasil pengamatan langsung wartawan AFP di lokasi kejadian melaporkan fakta mengejutkan bahwa kelompok yang terdiri dari enam pemuda ini melancarkan aksi kejahatan secara sangat rapi dan terorganisir dengan mengenakan pelindung wajah serta sarung tangan khusus.

Secara sangat terencana, para perusuh ini terlebih dahulu meretas dan memotong kabel kamera CCTV guna menghilangkan jejak kejahatan, sebelum akhirnya menghancurkan etalase kaca toko hingga pecah berkeping-keping demi menguras seluruh barang berharga di dalamnya.

Dampaknya, puluhan tempat usaha—mulai dari minimarket, apotek, butik fesyen barang mewah, gerai pakaian, toko kacamata, pusat kosmetik, hingga toko barang elektronik—menjadi korban aksi pembobolan liar yang menyebar luas mulai dari kota Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, sampai Strasbourg.

Selain menghancurkan bisnis swasta, amukan massa anarkis ini juga menyasar gedung instansi pemerintahan daerah melalui aksi perusakan fasilitas umum serta coretan vandalisme yang merusak keindahan kota.

Gedung Bersejarah dan Kantor Polisi Hangus Diamuk Massa

Gedung Balai Kota Limoges: Berdasarkan konfirmasi pejabat tinggi wilayah setempat, gedung balai kota bersejarah yang telah berdiri kokoh selama lebih dari 140 tahun kini sebagian besar hancur dilapah si jago merah setelah para pedemo bertopeng sengaja menyulutkan api ke dalam bangunan.

Kompleks Pemerintahan Marseille dan Lille: Di samping itu, dua bangunan instansi pemerintahan daerah yang sangat vital juga menjadi sasaran pembobolan serta hancur berantakan akibat amukan massa yang gelap mata.

Markas Kepolisian Bordeaux: Sementara itu di kota Bordeaux, kompleks markas kepolisian setempat turut mengalami kerusakan parah akibat serbuan tak terkendali dari gerombolan pengunjuk rasa.

Kantor Pariwisata Lyon: Tidak berhenti sampai di situ, para demonstran di sudut kota Lyon bahkan tanpa ragu menyulutkan api dan membakar habis kantor pelayanan pariwisata hingga tak tersisa.

Menanggapi gelombang kerusuhan yang sangat mengerikan ini, Presiden Emmanuel Macron langsung mengambil sikap tegas dengan memberikan peringatan keras bahwa pemerintah bakal bertindak tanpa ampun terhadap siapa pun yang terlibat.

“Siapa pun yang berani melancarkan aksi vandalisme, merusak kantor administrasi negara maupun tempat usaha, ataupun nekat menjarah toko—bahkan membakar balai kota kita—pasti akan kami seret ke jalur hukum dan kami jebloskan ke penjara!” ancam Macron dengan wajah memerah penuh amarah.

Panggung Politik Memanas: Para Elite Saling Tuding

Di sisi lain, panggung kekacauan hebat yang melumpuhkan Perancis ini mendadak dimanfaatkan secara agresif oleh para politisi oposisi yang tengah bersaing ketat demi mengamankan tiket menuju kursi kepresidenan.

Oleh sebab itu, kandidat kuat dari kubu sayap kanan Marine Le Pen langsung mengutuk keras kebrutalan para perusuh yang dinilainya telah menciptakan teror mencekam di tengah masyarakat.

Bahkan, Le Pen berjanji akan pasang badan demi melindungi rakyat Perancis dari ancaman aksi kekerasan kelompok sayap kiri ekstrem, seraya menuding bahwasanya partai politik milik rival beratnya, Jean-Luc Melenchon, secara terang-terangan ikut melegitimasi aksi anarkisme tersebut.

Namun di kubu seberang, Jean-Luc Melenchon yang sejak awal sangat vokal pasang badan membela gerakan protes mahasiswa dan isu kenaikan biaya hidup, justru bergegas mengeluarkan imbauan agar massa tidak mudah terprovokasi melakukan aksi anarkis yang merugikan.

Pada akhirnya, tokoh senior ini meminta seluruh pengunjuk rasa untuk sepenuhnya menjauhi segala bentuk tindakan penjarahan, sebab aksi kriminal mencuri barang-barang toko tersebut sangat bertentangan dengan prinsip moral serta metode perjuangan yang ia usung dari awal.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *