Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Arab Saudi dan Yaman Gelar Operasi Militer Rebut Pelabuhan Mokha dari Houthi

Cinta-news.com – Aksi militer mengejutkan ini langsung mengguncang kawasan Timur Tengah. Tepat pada Senin (5/10/2026), pasukan Arab Saudi bersama militer Yaman resmi mengamuk dan meluncurkan serangan balasan super sengit ke markas Houthi. Misi utama mereka emang gak main-main, yakni merebut kembali kota pelabuhan Mokha yang super strategis sekaligus mengamankan jalur ekspor energi dunia di Selat Bab El-Mandeb.

Demi memuluskan pergerakan darat, pihak koalisi langsung menerjunkan sekitar 100 jet tempur canggih untuk mengawal ketat pasukan Yaman. Armada udara ini terus membentengi gerakan tentara darat yang merangsek maju menelusuri pantai utara demi mengurung posisi Houthi di Mokha.

Berdasarkan kabar resmi dari Jenderal Turki Al-Maliki selaku juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, gempuran besar-besaran tersebut sudah mereka kobarkan sejak fajar membara.

Selanjutnya, laporan eksklusif The Wall Street Journal membongkar keterangan Al-Maliki yang menyebutkan bahwa armada laut koalisi juga sukses meremukkan gudang amunisi raksasa. Tak hanya itu, mereka melumat tempat penyimpanan kapal bermuatan peledak serta ranjau laut di Hodeidah demi menjamin keselamatan kapal kargo di Selat Bab El-Mandeb dan Laut Merah.

Bukannya gentar menerima pukulan telak tersebut, kelompok Houthi justru mengamuk balik dengan menembakkan hujan rudal balistik serta serangan drone mematikan ke sejumlah target vital di Arab Saudi.

Lewat keterangan resminya, Yahya Sare’e selaku juru bicara militer Houthi mengklaim bahwa rudal mereka berhasil menyasar titik krusial. Target tersebut meliputi Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, kilang minyak Aramco di Rabigh, hingga pangkalan militer utama Arab Saudi.

Melihat situasi tempur yang kian mendidih, Sare’e lantas menyebarkan peringatan keras kepada seluruh maskapai penerbangan komersial agar menjauhi wilayah udara Arab Saudi karena lokasi tersebut resmi menjadi zona pertempuran Houthi.

Bahkan, Sare’e membeberkan bahwa pasukan koalisi pimpinan Saudi sudah membombardir wilayah Houthi dengan 60 kali serangan udara dan roket sejak ofensif pecah, termasuk menghantam ibu kota Yaman, Sana’a.

Houthi Kuasai Kota Pelabuhan Mokha

Usut punya usut, pertempuran memanas ini meletus lantaran Houthi mencaplok kota Mokha sejak awal bulan lalu. Langkah nekat ini mereka ambil demi memperluas wilayah hingga ke bibir Selat Bab El-Mandeb dan meningkatkan ancaman terhadap ekspor minyak Arab Saudi.

Padahal, Selat Bab El-Mandeb sendiri merupakan jalur emas yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Alhasil, potensi gangguan lalu lintas kapal di kawasan ini memicu gelombang kepanikan bagi Arab Saudi, Eropa, hingga Amerika Serikat lantaran takut memicu krisis pasokan minyak global.

Di sisi lain, Kolonel Majid al-Nuzaili selaku juru bicara militer Yaman menyatakan bahwa pergerakan ini melibatkan pasukan pro-pemerintah bernama Giants Brigades. Malahan, ia berani mengklaim bahwa tim elitnya sudah berhasil memegang kendali atas kawasan selat.

Kendati demikian, klaim sepihak mengenai penguasaan penuh selat tersebut nyatanya belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh lembaga internasional.

Melihat memanasnya pertempuran tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio akhirnya angkat bicara mendukung Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa pihak kerajaan punya hak penuh membela diri dari serangan Houthi, sekaligus meyakini pasukan Yaman bakal bergerak merebut balik tanah mereka.

“Pemerintah Saudi memang sudah menjadi sasaran serangan Houthi, sehingga mereka berhak membela diri. Oleh sebab itu, kami yakin tentara Yaman bakal berjuang keras mengambil kembali wilayah yang sempat direbut musuh,” tegas Rubio kepada wartawan pada Senin.

MBS Sempat Minta Bantuan Donald Trump

Menariknya, sebelum operasi militer pecah, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) rupanya sempat mengontak Presiden AS Donald Trump untuk meminta bantuan militer langsung demi menumbangkan Houthi.

Akan tetapi, Trump justru menolak permohonan bantuan militer terbuka tersebut dan cuma bersedia membagikan data intelijen secara tidak langsung kepada Arab Saudi.

Bukan tanpa alasan, para pengamat menilai bahwa Washington sengaja menghindari pembukaan front militer baru melawan Houthi. Langkah tersebut dinilai berisiko membebani armada militer AS sekaligus meningkatkan ancaman bagi pelayaran komersial internasional.

Lagipula, faksi Houthi sendiri tercatat lebih banyak menahan diri dari menyasar kapal-kapal komersial AS maupun internasional di kawasan tersebut pasca disepakatinya gencatan senjata dengan AS pada 2025 lalu.

Secara historis, Houthi merupakan salah satu kelompok milisi terkuat di Timur Tengah yang rutin memperoleh sokongan senjata dan pelatihan dari Iran serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Langkah panjang ini memang menjadi strategi Teheran dalam menancapkan pengaruh geopolitiknya di kawasan.

Meskipun begitu, milisi Houthi mulanya sempat tidak terlibat langsung dalam gesekan panas antara AS dan Iran, sebelum akhirnya kesepakatan damai di Yaman resmi hancur pada Juli lalu.

Sebagai kilas balik, konflik di Yaman pertama kali meletus pada 2014 saat Houthi menduduki ibu kota Sana’a secara paksa. Setahun berselang, koalisi pimpinan Arab Saudi langsung pasang badan ikut berperang demi menyokong pemerintahan sah Yaman yang diakui dunia.

Sayangnya, bentrokan bersenjata yang berlarut-larut ini telah merenggut lebih dari 150.000 nyawa, mengusir jutaan warga dari rumah mereka, serta menyeret Yaman sebagai negara termiskin di wilayah Arab menuju jurang kelaparan yang menakutkan.

Di lain pihak, pejabat senior Houthi Abdul-Malik Al-Ajri menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan tinggal diam dan siap membalas setiap aksi eskalasi dari Arab Saudi.

“Prinsip kami sangat tegas: eskalasi dibalas eskalasi hingga akhir, sampai rezim Saudi benar-benar menghentikan campur tangan ugal-ugalannya terhadap sisa-sisa kehidupan kami,” tulis Al-Ajri melalui unggahan media sosial pada Senin.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *