Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Sidak Rutan Medan Usai Video Tahanan Pamer Sabu Viral, Tes Urine 500 Napi Ternyata Negatif!

Cinta-news.com – Rekaman video berdurasi singkat menghebohkan jagat media sosial setelah mengklaim adanya aktivitas terlarang di balik jeruji besi. Bahkan, video tersebut secara gamblang memperlihatkan dugaan penyalahgunaan narkotika sekaligus transaksi jual beli kamar hunian di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Tanjung Gusta Medan, Sumatera Utara. Selanjutnya, demi meredam gejolak publik yang kian membara, aparat gabungan langsung mengambil tindakan tegas dengan menggelar tes urine dadakan terhadap 500 orang warga binaan secara menyeluruh.

Dalam cuplikan gambar yang beredar sangat cepat itu, seorang narapidana pria terlihat mengenakan kaus berwarna hitam dengan raut wajah santai. Selain itu, pria tanpa identitas jelas tersebut memamerkan sebuah bungkus plastik klip berukuran kecil yang diduga kuat berisi kristal putih jenis sabu.

Di samping itu, narasi tertulis yang melengkapi unggahan viral tersebut menuduh bahwa peredaran gelap barang haram sudah mengakar kuat di dalam area Rutan Medan. Bahkan, sang pembuat konten mengklaim bahwa jaringan terlarang tersebut dapat bergerak sangat bebas tanpa tersentuh pengawasan pihak berwenang.

Lebih jauh lagi, tudingan liar tersebut tidak hanya berhenti pada masalah penyelewengan narkoba semata. Malahan, pengunggah video membongkar dugaan praktik komersialisasi kamar hunian secara ilegal serta peredaran obat-obatan keras yang disinyalir bocor dari fasilitas klinik rutan.

Sontak, pihak pengelola Rutan Kelas I Medan langsung memasang badan dan menepis keras seluruh tudingan miring tersebut. Oleh karena itu, petugas secara tegas mengimbau khalayak luas agar tidak menelan bulat-bulat narasi liar yang berseliweran di media sosial sebelum ada pembuktian ilmiah.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (Ka. KPR) Medan, Yoslan Josua Hasurungan Doloksaribu, menegaskan komitmennya untuk meluruskan kesimpangsiuran informasi publik ini. Melalui keterangan resminya, ia meminta netizen lebih bijak dan tidak langsung menganggap setiap tontonan di linimasa sebagai kenyataan mutlak.

Lantas, Yoslan menerangkan bahwa seluruh konten video viral tersebut membutuhkan proses verifikasi mendalam melalui serangkaian pengujian material serta keterangan dari sumber-sumber resmi. Akibatnya, klaim sepihak tanpa landasan bukti sah tentu tidak dapat menggantikan fakta lapangan yang sebenarnya.

Maka dari itu, Yoslan amat berharap agar masyarakat luas membiasakan diri untuk menyaring informasi dan menahan diri dari menarik kesimpulan gegabah. Sebab, potongan video tanpa konfirmasi jelas sering kali sengaja diproduksi untuk memicu opini publik yang merugikan nama baik institusi pemasyarakatan.

Bongkar Blok Hunian! Rutan Medan Dirazia Petugas Gabungan, 500 Warga Binaan Dites Urine

Sesaat setelah rekaman menghebohkan itu menyebar luas, jajaran petugas Rutan Kelas I Medan langsung bergerak cepat menggandeng aparat kepolisian setempat serta Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Utara. Langkah taktis ini diwujudkan dengan merazia seluruh blok hunian narapidana secara mendadak dan menyeluruh.

Di samping itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sumatera Utara, Jalu Yusa Panjang, bersama Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, menyaksikan langsung kegiatan sidak tingkat tinggi ini. Sementara itu, Yoslan Doloksaribu memimpin langsung pergerakan tim penggeledahan di lapangan dengan menerapkan standar operasional yang amat ketat.

Secara berkala, tim gabungan menyisir setiap lorong blok hunian serta menggeledah sudut-sudut kamar warga binaan tanpa terkecuali. Hasilnya, petugas memeriksa kasur, lemari, hingga celah-celah tersembunyi guna memastikan tidak ada barang haram yang tersembunyi dari jangkauan pengawasan.

Bahkan, razia berskala besar ini menerjunkan personel bersenjata lengkap dari Pasukan Gegana Brimob, jajaran Kepolisian, prajurit TNI, hingga tim ahli dari BNN. Tak pelak, pelibatan berbagai unsur keamanan nasional ini membuktikan betapa seriusnya penanganan dugaan pelanggaran yang menjadi perhatian publik tersebut.

“Oleh sebab itu, sinergitas erat bersama Pasukan Gegana, Polres, Polsek, TNI, serta BNN menjadi kunci utama kami dalam melancarkan deteksi dini terhadap potensi kerawanan,” papar Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, pada Jumat (18/9/2026).

Selama proses penggeledahan maraton tersebut berlangsung, tim penyisir menyita sejumlah benda terlarang yang tidak boleh disimpan oleh para penghuni rutan. Secara rinci, benda-benda yang disita mencakup beberapa mancis gas, gulungan kabel listrik liar, sendok berbahan besi, hingga perangkat pengisi daya (charger) ponsel.

Di sisi lain, tim medis BNN melangsungkan tes urine secara acak terhadap 500 warga binaan yang dipilih dari berbagai blok secara representatif. Dengan begitu, prosedur medis ini memastikan kondisi biologis para tahanan secara objektif tanpa rekayasa.

Selanjutnya, Andi mengungkapkan kabar mengejutkan bahwa seluruh hasil tes urine dari 500 narapidana tersebut menunjukkan hasil negatif narkoba. Seketika, temuan medis ini mematahkan narasi video yang menyebutkan adanya pesta sabu di dalam rutan.

“Dengan demikian, hasil uji tes urine yang 100 persen negatif beserta penyitaan berbagai barang terlarang ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pengawasan internal di Rutan Kelas I Medan berjalan sangat optimal,” tegas Andi Surya dengan penuh rasa optimis.

Misteri Video Viral: Tudingan Bebas Narkoba dan Jual Beli Kamar di Tanjung Gusta

Awalnya, sebelum penggerebekan besar ini meletus, sebuah rekaman video yang menampilkan aksi tahanan anonim sempat menggegerkan jagat maya secara massif. Pada video tersebut, pria yang mengenakan kaus hitam memamerkan klip plastik bening berisi serbuk terlarang yang dituding sebagai sabu.

Alhasil, tayangan berdurasi pendek itu memancing beragam komentar pedas dari warganet yang mengkritik kinerja pengawasan di Rutan Tanjung Gusta Medan. Bahkan, narasi yang menyertainya menggambarkan seolah-olah rutan telah menjadi surga aman bagi para bandar dan pengguna narkoba.

Selain itu, beberapa akun penyebar video mengembuskan isu liar mengenai praktik sewa-menyewa kamar hunian dengan tarif tertentu bagi tahanan berkantong tebal. Akibatnya, muncul prasangka bahwa oknum tertentu sengaja memperjualbelikan fasilitas negara demi meraup keuntungan pribadi.

Malahan, pengunggah video turut melempar tuduhan miring mengenai kebocoran stok obat-obatan medis yang bersumber dari fasilitas klinik internal rutan. Tentu saja, tudingan ini mengesankan adanya penyalahgunaan obat terlarang yang melibatkan pihak medis lembaga pemasyarakatan.

Menanggapi hal itu, Yoslan kembali menegaskan bahwa video yang terpotong-potong sama sekali tidak bisa menjadi barometer kebenaran tunggal. Oleh karena itu, publik perlu bersikap lebih kritis dalam mencerna setiap potongan informasi yang beredar di sosial media.

Kendati demikian, pihak rutan tetap menghormati kekhawatiran masyarakat dengan mengedepankan asas pembuktian berbasis fakta konkret serta data konfirmasi yang sahih. Sebab, verifikasi fakta lapangan menjadi jalan tunggal untuk menepis segala bentuk hoaks dan fitnah.

Oleh sebab itu, manajemen Rutan Kelas I Medan bersama aparat penegak hukum langsung mengambil langkah proaktif dengan memeriksa ulang seluruh kondisi riil di blok hunian. Langkah nyata ini membuktikan secara transparan kondisi keamanan rutan kepada masyarakat luas.

Akhirnya, dari hasil sidak menyeluruh tersebut, petugas menyita pemantik api, kabel terurai, sendok besi, dan charger HP, namun sama sekali tidak menemukan barang bukti sabu. Nyatanya, temuan ini menunjukkan bahwa razia berjalan jujur dan transparan tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.

Sementara itu, BNN mencatat hasil negatif secara menyeluruh pada pengujian sampel urine 500 warga binaan yang dilakukan secara independen. Jelas sekali, bukti ilmiah ini menguatkan kredibilitas rutan dari tuduhan adanya penyalahgunaan zat adiktif.

Akhir kata, pengelola rutan mewanti-wanti masyarakat luas agar lebih waspada dan tidak ikut-ikutan menyebarkan informasi liar dari media sosial yang belum teruji faktanya. Sebab, kesadaran publik dalam menyaring informasi merupakan kunci utama untuk mencegah penyebaran hoaks di era digital saat ini.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *