LAMONGAN, Cinta-news.com – Tim gabungan terus memacu upaya pencarian KMN Entok yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya setelah hilang kontak di perairan Kangean Sumenep, Jawa Timur. Memasuki hari kelima sejak operasi pencarian resmi digulirkan, kapal motor nelayan pengangkut puluhan anak buah kapal (ABK) ini masih menyimpan misteri di tengah ganasnya ombak laut Jawa.

Untuk memperkuat koordinasi sekaligus memudahkan penyampaian informasi kepada pihak keluarga korban, Satpolairud Polres Lamongan bersama instansi maritim terkait sepakat mendirikan Posko Terpadu di Kantor Basarnas Brondong, Lamongan. Kesepakatan penting ini berhasil mereka raih setelah menggelar pertemuan bersama antara keluarga awak kapal dan lintas instansi yang berlangsung di Kantor Rukun Nelayan Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jumat (3/7/2026).
“Untuk memaksimalkan koordinasi dan penyampaian informasi kepada keluarga korban, kami bersama Basarnas dan instansi terkait sepakat membentuk Posko Terpadu di Kantor Basarnas Brondong,” ujar Kasat Polairud Polres Lamongan, AKP Guntur, Minggu (5/7/2026), sembari menegaskan komitmen pihaknya untuk tidak berhenti sebelum kapal dan seluruh awaknya ditemukan.
KRONOLOGI LENGKAP: KAPAL NELAYAN LAMONGAN HILANG TANPA JEJAK
KMN Entok merupakan kapal motor nelayan berbobot GT 35 dengan nomor identitas kapal 1163/Kd yang dinakhodai oleh Siswanto (45) dan membawa 19 anak buah kapal (ABK). Kapal ini berangkat dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong, Lamongan, pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 15.30 WIB dengan tujuan area tangkap di wilayah Perairan Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep.
Dalam kondisi normal, kapal nelayan Lamongan yang hilang ini biasanya melaut dengan durasi maksimal sekitar 18 hari dan seharusnya sudah kembali bersandar di PPN Brondong pada akhir Juni. Namun, hingga waktu yang diperkirakan, posisi kapal tak kunjung diketahui dan membuat keluarga serta rekan-rekan nelayan semakin cemas.
Khawatir dengan kondisi keselamatan kru, Ketua Rukun Nelayan (RN) Desa Blimbing, Nur Wakhit, bersama pemilik kapal, Andik, langsung mendatangi markas kepolisian untuk membuat laporan resmi. Tindakan cepat ini mereka ambil setelah berbagai upaya komunikasi mandiri tidak membuahkan hasil.
“Petugas jaga Satpolairud Polres Lamongan menerima laporan pada Rabu (1/7/2026), sekitar pukul 14.30 WIB. Dalam laporan tersebut disebutkan, keberadaan KMN Entok tidak diketahui dan kapal tersebut mengalami hilang kontak setelah berangkat melaut,” papar Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M Hamzaid, mewakili AKP Guntur, Kamis (2/7/2026), seraya menambahkan bahwa laporan langsung mereka tindaklanjuti dengan cepat.
TEROBOSAN BARU: LACAK SINYAL PONSEL ABK, KELUARGA DIMINTA SEGERA KUMPULKAN NOMOR TELEPON
Dalam forum koordinasi yang dihadiri oleh perwakilan Basarnas Lamongan, KSOP Tanjung Pakis, PSDKP Brondong, Dinas Perikanan Brondong, Syahbandar Perikanan, Kamladu, hingga jajaran kepala desa serta ketua rukun nelayan setempat, sejumlah langkah strategis mulai mereka rumuskan secara matang. Setiap instansi berbagi peran dan tanggung jawab untuk memaksimalkan upaya pencarian.
Selain mengandalkan pemantauan visual di laut, tim gabungan juga berupaya memaksimalkan metode pelacakan teknis dengan memanfaatkan teknologi digital. Pihak otoritas meminta pihak keluarga untuk segera mengumpulkan nomor telepon seluruh ABK yang berada di dalam KMN Entok, sebuah langkah yang dinilai krusial dalam operasi pencarian modern.
Data kontak digital dari seluruh ponsel milik awak kapal ini nantinya akan mereka jadikan sebagai bahan pendukung proses pelacakan titik koordinat atau sinyal terakhir sebelum sistem komunikasi mereka terputus sepenuhnya. Teknologi seluler ini diharapkan mampu memberikan petunjuk penting mengenai posisi terakhir kapal sebelum hilang kontak.
“Kami memastikan Polres Lamongan melalui Satpolairud terus mengoptimalkan upaya pencarian KMN Entok dengan memperkuat koordinasi bersama Basarnas, KSOP, PSDKP, Syahbandar, serta seluruh unsur maritim terkait,” tegas Ipda M Hamzaid, menekankan bahwa sinergi antarlembaga menjadi kunci keberhasilan operasi ini.
PERLUASAN RADIUS DAN IMBUAN LINTAS PERAIRAN: SEMUA TANGAN DIKERAHKAN
Hingga Minggu siang, pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Mukhlisin Amar, mengonfirmasi bahwa belum ada perkembangan signifikan atau tanda-tanda fisik mengenai keberadaan kapal. Kabar ini tentu saja menambah kekhawatiran keluarga yang terus menanti kabar baik dari operasi pencarian.
Guna mempercepat penemuan, HNSI mulai menggerakkan basis massa mereka di lapangan dengan melibatkan seluruh jaringan nelayan di wilayah sekitar. Langkah ini mereka ambil sebagai bentuk solidaritas sesama nelayan dan upaya memperluas jangkauan pencarian.
“Kami melibatkan jaringan informasi HNSI di wilayah terdekat,” kata Mukhlisin, seraya menjelaskan bahwa informasi dari nelayan lain sangat berharga dalam situasi darurat seperti ini.
Satpolairud Polres Lamongan juga telah berkoordinasi secara intensif dengan Satpolairud Polres Sumenep, Syahbandar KSOP Tanjung Pakis, dan Syahbandar PPN Brondong untuk menyebarluaskan maklumat bahaya ini kepada kapal-kapal dagang maupun kapal komersial yang sedang melintas. Jaringan komunikasi lintas perairan ini mereka bangun agar informasi pencarian menjangkau seluruh pelaku pelayaran di wilayah tersebut.
Pihak kepolisian mengimbau para nelayan dan operator kapal yang tengah beraktivitas di sekitar perairan Kangean Sumenep, Masalembu, Bawean, dan wilayah sekitarnya untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan kapal dengan ciri-ciri tersebut. Imbauan ini terus mereka gaungkan melalui berbagai kanal komunikasi maritim yang ada.
“Setiap informasi akan segera kami tindak lanjuti sebagai bagian dari upaya pencarian. Kami berharap seluruh awak kapal dapat segera ditemukan dan kembali dalam keadaan selamat,” pungkas Hamzaid dengan nada penuh harap, mengakhiri pernyataannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











