KARANGANYAR, Cinta-news.com – Gempar! Satreskrim Polres Karanganyar bergerak cepat dan langsung mengamankan sampel Minyakita setelah gelombang protes dari para penerima bantuan pangan membanjiri media sosial. Bukan main, bau menyengat yang mirip solar ini membuat para ibu-ibu di dapur histeris dan terpaksa mengembalikan jatah sembako mereka. Kini, aparat kepolisian turun tangan untuk mengusut tuntas kasus yang mengancam ketahanan pangan rumah tangga ini!

KELUHAN MEREBAK, MINYAK BANTUAN DITARIK DARI RATUSAN WARGA
Panasnya isu minyakita bantuan pemerintah yang berbau tidak sedap itu ternyata menyebar luas, terutama di wilayah Kelurahan Tegalgede, Lalung, dan beberapa titik lainnya. Warga yang awalnya antusias menerima bantuan, kini berubah menjadi was-was setelah mengetahui kualitas minyak yang mereka terima jauh dari kata layak konsumsi. Kondisi ini sontak membuat para penerima manfaat, khususnya di Kelurahan Lalung, merasa lega karena mereka sudah lebih dulu menerima penggantian minyak goreng baru setelah mengembalikan produk bermasalah tersebut ke kantor kelurahan setempat.
Pantauan langsung di lapangan pada Kamis (25/6/2026) di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, memperlihatkan suasana yang cukup ramai dan mencengangkan. Ratusan warga terlihat mengantre dengan tertib namun diiringi ekspresi penasaran untuk mengambil minyak goreng pengganti. Antrean panjang itu terjadi karena pemerintah setempat bergerak cepat menarik seluruh stok minyak yang sebelumnya dikeluhkan dan menumpuknya di kantor kelurahan. Di tengah hiruk-pikuk proses pembagian yang berlangsung, sorotan justru tertuju pada aksi tegas kepolisian yang muncul di lokasi.
POLISI TURUN TANGAN, SAMPLEL DIBAWA KE LABORATORIUM
Kasatreskrim Polres Karanganyar, AKP Wikan Sri Kadiono, dengan lantang menyatakan bahwa pihaknya kini dalam tahap krusial, yaitu mengambil sampel minyak goreng bermasalah untuk segera diuji di laboratorium forensik. “Kami tidak tinggal diam! Meskipun tidak ada laporan resmi yang masuk secara langsung, kami memantau sendiri hebohnya di media sosial dan langsung bertindak,” tegasnya saat dihubungi pada Kamis siang. Menurutnya, bau solar pada minyak goreng ini sama sekali bukan hal yang wajar dan harus dipertanggungjawabkan oleh pihak distributor maupun produsen.
Lebih lanjut, AKP Wikan menekankan bahwa langkah penyelidikan ini diambil demi memastikan tidak ada unsur kesengajaan yang merugikan masyarakat luas. “Yang jelas, produk yang diterima penerima bantuan seperti itu tidak sesuai dan sangat dikeluhkan. Kami akan pastikan apa penyebab pastinya. Apakah ada kelalaian dalam proses produksi, pengemasan, atau justru ada kesengajaan? Ini yang harus kami buktikan,” ujarnya dengan nada tegas. Pihak kepolisian berjanji akan mengusut tuntas akar masalah ini agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan masyarakat tidak menjadi korban.
Dalam pernyataannya yang penuh kewaspadaan, Kasatreskrim menegaskan bahwa proses penanganan kasus ini sepenuhnya bergantung pada hasil penyidikan dan uji laboratorium. “Saat ini kami masih fokus pada pengumpulan barang bukti. Mungkin dari hasil penyelidikan itu, bisa saja kalau memang ada tindakan mengarah ke pidana, kami tidak akan segan-segan untuk menindaklanjutinya ke jalur hukum,” ancamnya. Ancaman pidana ini menjadi angin segar bagi warga yang merasa dirugikan, sekaligus menjadi peringatan keras bagi oknum yang bermain-main dengan bahan pokok masyarakat.
858 KEMASAN MINYAKITA DITUKAR, WARGA BERHARAP KEJADIAN TAK TERULANG
Sementara itu, Lurah Tegalgede, Bowo Budi Setyo, menjelaskan bahwa proses penukaran minyak goreng bermasalah ini digelar serentak pada hari Kamis untuk mencegah konsumsi lebih lanjut. “Kami mengumpulkan semua minyak yang dikeluhkan di kantor kelurahan, lalu kami tukar dengan minyak goreng baru yang sudah terjamin kualitasnya. Jumlahnya yang kami tukar hari ini mencapai 858 kemasan atau setara dengan literan yang disalurkan,” paparnya. Angka fantastis ini menunjukkan betapa besarnya dampak dari kasus minyak berbau solar terhadap masyarakat Karanganyar.
Salah satu penerima bantuan yang turut menyampaikan keluh kesahnya adalah Taufik, seorang warga yang istrinya nyaris celaka akibat memasak menggunakan minyak tersebut. Dengan nada geram, ia menuturkan pengalaman pahitnya ketika sang istri menggoreng tahu dan tempe. “Istri kemarin itu kan masak tahu dan tempe, begitu digoreng langsung berbau menyengat seperti minyak tanah, dan parahnya lagi makanan cepat gosong meski apinya kecil. Rasanya juga langsung berubah, tidak enak dan bikin mual,” ungkapnya dengan ekspresi masih menyimpan kekesalan.
Taufik pun berharap keras kepada pihak penyalur dan distributor agar ke depannya lebih teliti dan bertanggung jawab sebelum menyalurkan bantuan pangan. Menurutnya, kesalahan seperti ini tidak boleh terulang karena menyangkut nyawa dan kesehatan keluarga. “Kami berharap penyalur bisa mengecek kembali setiap produk yang akan diberikan kepada warga. Jangan sampai bantuan yang seharusnya meringankan malah menjadi musibah bagi kami,” pintanya. Harapan Taufik ini juga menggema di kalangan warga lainnya yang ingin jaminan kualitas dan keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama.
Hingga berita ini diturunkan, sampel minyak goreng yang diamankan polisi masih dalam proses uji laboratorium untuk memastikan kandungan zat berbahaya atau indikasi pencemaran lainnya. Publik kini menunggu dengan degup jantung hasil resmi dari penyelidikan tersebut. Satu hal yang pasti, kasus Minyakita bau solar ini telah menjadi perbincangan hangat dan membuat semua pihak, dari produsen hingga aparat penegak hukum, harus berpikir ulang tentang pengawasan ketat terhadap barang-barang kebutuhan pokok yang diterima oleh rakyat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











