MATARAM, Cinta-news.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akhirnya angkat bicara dan langsung turun tangan! Setelah insiden mengerikan ambruknya atap dua ruang kelas di SMA Negeri 7 Mataram, Pemprov NTB dengan sigap mengambil keputusan mengejutkan. Mereka memastikan diri bakal menanggung seluruh biaya pengobatan para siswa yang menjadi korban. Tidak main-main, ini komitmen penuh dari pemerintah daerah!
Lalu, siapa di balik keputusan cepat ini? Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, dengan tegas menyampaikan bahwa Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, langsung mengarahkan seluruh jajaran terkait. Apa inti perintahnya? Prioritas utama adalah penanganan darurat dan pendampingan intensif terhadap para siswa terdampak. Bahkan, Gubernur secara khusus menekankan satu poin penting. “Termasuk memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh Pemprov NTB,” ujar Ahsanul dengan nada mantap kepada awak media, Selasa (19/5/2026). Langkah ini jelas membuat para orang tua sedikit bernapas lega.
Lima Siswa Terjepit Runtuhan! Kondisi Terkini Mereka Bagaimana?
Berdasarkan laporan hangat yang baru masuk dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) NTB, kabar terbaru menyebutkan bahwa ada lima siswa yang terjebak sebagai korban saat atap SMAN 7 Mataram ambruk. Namun, syukurlah, seluruhnya hanya mengalami luka ringan dan lecet-lecet. Tim medis langsung bergerak cepat memberikan penanganan darurat.
Nah, kabar baiknya, saat ini empat dari lima siswa tersebut sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Mereka sudah kembali berkumpul dengan keluarga. Namun, satu siswa lainnya masih harus menjalani observasi ketat di rumah sakit. Kenapa? Bukan karena luka fisik yang parah, melainkan untuk penanganan trauma psikologis. Bayangkan, pengalaman melihat atap runtuh di depan mata pasti sangat menakutkan!
Struktur Atap Patah? Ternyata Ini Penyebab Utamanya!
Lantas, apa yang sebenarnya memicu bencana mini ini? Ahsanul mengungkapkan fakta teknis yang mencengangkan. Insiden nahas itu terjadi tepat saat jam istirahat sekolah. Beruntung, sebagian besar siswa sedang berada di luar ruang kelas. Jika tidak, korban bisa jauh lebih banyak!
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lokasi kejadian, tim teknis menemukan bagian struktur atap mengalami patah pada konstruksi kap. Kondisi ini diduga menjadi biang kerok utama. Bangunan yang menggunakan rangka kayu dengan penutup atap genteng beton yang berat itu akhirnya tidak kuat menahan beban. Hasilnya? Ambruk total!
Saat ini, tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPR PKP) NTB masih melakukan pemeriksaan lanjutan secara mendetail. Apa target mereka? Memastikan penyebab pasti kejadian sekaligus mengevaluasi kondisi seluruh bangunan lain di lingkungan sekolah. Jangan sampai ada korban berikutnya!
Menariknya, Ahsanul yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) NTB itu menambahkan satu fakta penting. “Bangunan yang ambruk merupakan bangunan lama yang dibangun pada tahun 2006 melalui dukungan sumbangan Komite Sekolah,” tandasnya. Artinya, usia bangunan sudah mencapai 20 tahun lebih!
Detik-detik Mengerikan! Kepala Sekolah Buka Suara
Jangan bayangkan kejadian ini biasa saja. Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina, dengan suara bergetar menceritakan kronologi lengkap yang membuat bulu kuduk merinding. Kejadian ini terjadi pada Selasa siang. Saat itu, sebagian besar siswa justru sedang menjalankan kegiatan yang baik, yaitu shalat dzuhur berjamaah di mushola sekolah.
“Kronologi kejadian jam 12.30 Wita, saat itu siswa sedang sholat Dzuhur berjamaah seperti biasa. Nah, yang sedang di dalam kelas adalah siswa yang tidak melaksanakan shalat dzuhur, artinya yang beragama lain,” cerita Ridha panjang lebar.
Bayangkan betapa dramatisnya! Saat kejadian, ada lima orang siswa yang sedang berada di dalam kelas secara tiba-tiba. Satu orang siswa berhasil dengan refleks luar biasa keluar ruangan sebelum reruntuhan menimpa. Dia selamat! Namun, empat siswa lainnya kurang beruntung. Mereka sempat tertimpa puing-puing dan mengalami luka ringan.
Ridha juga mengaku masih shock. Pagi hari sebelum kejadian, pihaknya sempat berkeliling sekolah. Ia melihat kondisi plafon saat itu dalam kondisi baik dan sama sekali tidak mencurigakan. Tidak ada retakan, tidak ada tanda-tanda bahaya. Namun, hanya beberapa jam kemudian, tepat pada siang harinya saat siswa sedang khusyuk sholat dzuhur, atap plafon kelas tiba-tiba roboh tanpa peringatan.
“Tiba-tiba roboh, suaranya seperti dump truk yang menumpahkan batu, keras sekali!” kenang Ridha sambil menirukan suara gemuruh yang menghentak.
Dua Ruang Kelas dan Perpustakaan Hancur! Aktivitas Sekolah Dihentikan Sementara
Apa saja kerusakan yang ditimbulkan? Luar biasa parah! Ruang perpustakaan dan dua ruang kelas mengalami kerusakan yang tidak main-main. Atap plafon dan kerangka kayu tampak bergelimpangan jatuh ke bawah, menimpa meja dan kursi di ruangan kelas. Buku-buku berserakan, kaca jendela pecah, dan debu beton di mana-mana.
“Yang paling parah itu dua kelas. Perpustakaan masih satu struktur dengan bangunan itu, jadi agak mengkhawatirkan juga. Makanya, kita tutup semua,” ujar Ridha dengan tegas.
Kini, ketiga ruangan tersebut telah diberi garis polisi yang melingkar. Kondisinya sangat mencekam dan jelas tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sampai ada perbaikan total. Para siswa pun sementara dipindahkan ke ruang alternatif agar proses belajar tidak terganggu terlalu lama.
Pemprov NTB sendiri berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh bangunan sekolah tua di wilayah NTB. Jangan sampai peristiwa seperti ini terulang lagi. Sementara itu, para korban terus mendapat pendampingan psikologis dari tim khusus.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











