Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Densus 88 Tangkap 8 Anggota JAD di Parigi dan Poso karena Propaganda ISIS

Cinta-news.com – Tim elite Densus 88 Antiteror Polri baru saja melancarkan operasi senyap yang bikin merinding jaringan teroris di Sulawesi Tengah. Tepat pada Rabu dini hari (6/5/2026), para aparat bergerak cepat membekuk delapan orang terduga teroris dari jaringan Jamaah Anshoru Daulah (JAD) di dua lokasi strategis, yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso. Bayangkan, operasi ini berlangsung dari pukul 01.30 hingga 03.30 WITA dalam suasana mencekam. Misalnya, di Parigi Moutong tepatnya di Desa Tomoli Utara, Kecamatan Toribulu, salah seorang terduga pelaku ditangkap tanpa perlawanan saat lagi lelap di kediamannya. Sungguh, mereka tak menyangka malam itu jadi akhir petualangan radikalnya.

Jaringan ISIS Ternyata Sudah Merambah Medsos

Kemudian, Juru Bicara Densus 88 AT Polri, KBP Mayndra Eka Wardhana, dengan tegas mengonfirmasi bahwa kedelapan orang ini berafiliasi langsung dengan jaringan global ISIS. “Tim Densus 88 AT Polri telah melaksanakan penegakan hukum terhadap delapan orang jaringan Jamaah Anshoru Daulah yang terafiliasi kepada jaringan global ISIS di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah,” jelas Mayndra dalam keterangan resminya, Kamis (7/5/2026). Wow, ini bukan isapan jempol belaka! Jadi, mereka benar-benar bagian dari sel teror internasional yang selama ini diburu.

Profil Teroris: Ada yang Masih Muda hingga Kepala Empat Puluh

Selanjutnya, mari kita bedah siapa saja delapan orang yang diringkus tersebut. Di Kabupaten Poso, petugas mengamankan empat orang dengan inisial R (32 tahun), AT (29 tahun), RP (32 tahun), dan ZA (37 tahun). Sementara itu, empat terduga lainnya ditangkap di Parigi Moutong, yakni A (43 tahun), A (46 tahun), S (47 tahun), dan DP (39 tahun). Perhatikan, usia mereka cukup variatif, tapi semuanya punya satu misi kelam: menyebarkan kebencian.

Barang Bukti Mencengangkan: Bukan Cuma HP dan Pisau

Saat menggeledah rumah salah satu terduga di Tomoli Utara, tim Densus 88 menemukan barang bukti yang langsung menguatkan dugaan aktivitas teror mereka. Pertama, enam bilah parang tajam yang siap pakai. Kedua, telepon genggam yang ternyata jadi senjata utama propaganda. Ketiga, kartu ATM untuk mendanai aksi keji mereka. Jadi, jangan salah sangka, ponsel pintar mereka ternyata lebih mematikan dari parang dalam menyebarkan paham radikal.

Aksi Konyol: Sebar Propaganda ISIS via Medsos

Lantas, apa modus operandi mereka? Berdasarkan penyelidikan awal yang dilakukan aparat, kedelapan tersangka ini diduga kuat terlibat aktif dalam penyebaran propaganda terorisme melalui platform media sosial. Mereka secara rutin mengunggah dan membagikan konten-konten berbahaya, mulai dari gambar provokatif, tulisan penuh kebencian, hingga video ajakan berbaiat kepada ISIS. Coba bayangkan, sementara kita asyik scrolling TikTok atau Instagram, mereka justru memanfaatkan algoritma untuk merekrut simpatisan baru.

“Para terduga teroris itu juga diduga terlibat dalam berbagai aktivitas terorisme lainnya dan saat ini masih didalami oleh penyidik,” tambah Mayndra dengan nada serius. Artinya, bisa jadi ini baru puncak gunung es dari jaringan yang lebih luas di Sulawesi Tengah.

Kejutan Maksimal: Teroris Ternyata Penjual Buah yang Ramah

Yang paling bikin merinding adalah reaksi warga setempat, khususnya di Desa Tomoli Utara. Kepala Dusun I, Jufri Haruji, mengaku syok berat setelah mengetahui warganya yang diamankan tersebut punya profesi super umum dan sangat akrab di lingkungan. “Yang bersangkutan kesehariannya jualan buah, sehingga tidak pernah menimbulkan kecurigaan sedikit pun di lingkungan warga,” ujar Jufri dengan nada tak percaya. Gila, kan? Seorang penjual buah yang setiap hari lewat depan rumah warga ternyata menyembunyikan belasan parang dan paham radikal di balik keramahannya. Inilah bahaya laten terorisme modern yang menyamar seperti domba, tapi hati serigala.

Operasi Berkelanjutan: Polri Takkan Berhenti Sampai Sini

Akhirnya, operasi gemilang oleh Densus 88 ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Polri dalam memutus rantai penyebaran paham radikal dan menjaga stabilitas keamanan nasional. Saat ini, kedelapan tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik untuk pengembangan kasus lebih lanjut. Jadi, jangan heran jika dalam waktu dekat akan ada lagi penangkapan menyusul. Sebab, setiap informasi yang digali dari mulut mereka bisa membuka mata kita terhadap sel-sel tidur ISIS yang masih bersembunyi di berbagai daerah.

Kesimpulannya, cerita ini mengingatkan kita semua bahwa ancaman terorisme tak selalu datang dengan jenggot panjang dan sorban hitam. Bisa jadi, ia datang dari tetangga kita sendiri yang setiap pagi menjual pisang dan pepaya, tapi malam harinya meracuni pikiran muda-mudi lewat media sosial. Tetap waspada, laporkan jika melihat konten mencurigakan, dan percayakan penanganannya kepada aparat yang sudah terbukti profesional seperti Densus 88. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang rela begadang demi negeri ini aman dari cengkeraman ISIS. Salam satu bangsa, satu Indonesia anti-terorisme!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *