JAKARTA, Cinta-news.com – Polda Metro Jaya dengan percaya diri mengklaim bahwa pihaknya berhasil menggagalkan sebuah rencana kotor yang nyaris menodai aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Jumat (1/5/2026). Bayangkan, di balik gelombang massa yang menyuarakan aspirasi, polisi justru mencium bau skenario kerusuhan yang telah dirancang secara detail!

Dalam operasi yang menegangkan tersebut, petugas akhirnya mengamankan 101 orang yang diduga kuat sebagai aktor kunci pemicu ricuh.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, dengan tegas mengungkapkan bahwa penindakan ini bukanlah tindakan gegabah. “Informasi intelijen yang kami terima menjadi pijakan utama. Ada kelompok yang berencana menyusup ke tengah-tengah aksi buruh yang damai,” ujar Iman dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat malam. Dari informasi itulah, polisi langsung bergerak cepat untuk mencegah bencana lebih besar.
Barang Bukti Mengerikan: Dari Molotov Hingga Paku Beton!
Ketika petugas menggeledah kelompok tersebut, mereka menemukan ‘toko senjata mini’ yang sungguh mengkhawatirkan. Polisi dengan sigap menyita beragam alat pengerusak mulai dari bahan peledak sederhana hingga senjata tajam yang sudah dipersiapkan matang.
Coba lihat detailnya: petugas menemukan botol kosong, kain pemicu api, dan bensin yang siap dirakit menjadi bom molotov. Tidak berhenti di situ, polisi juga menyita ketapel beserta gotri atau peluru logamnya, paku beton yang sangat keras, berbagai senjata tajam, alat komunikasi canggih, dan yang mengejutkan—uang tunai sekitar Rp 10 juta!
“Botol kosong, kain, dan bahan bakar itu jelas-jelas ingin mereka rangkai menjadi bom molotov. Apalagi mereka juga sudah menyiapkan ketapel dengan gotri yang mematikan. Senjata-senjata ini siap mereka gunakan untuk menyerang petugas yang sedang mengamankan aksi,” jelas Iman dengan nada serius.
Lebih jauh, Iman menjelaskan fungsi jahat dari paku beton tersebut. “Mereka punya skenario licik. Sambil sebagian massa mengikuti orasi, kelompok lain diam-diam akan merusak beton atau pagar pembatas. Paku beton ini gunanya untuk memudahkan mereka merobohkan pembatas saat kerusuhan terjadi,” ungkapnya.
Intel Dalam Intel: Polisi Sita Dokumen ‘Rundown’ Mirip Operasi Militer!
Yang paling membuat publik terperangah, polisi tidak hanya menyita barang bukti fisik. Lebih dari itu, mereka menemukan dokumen tertulis yang berisi rencana detail alias rundown kerusuhan! Sungguh sebuah pengungkapan yang mencengangkan.
Iman membeberkan bahwa dokumen itu memuat jadwal serangan hingga rute pelarian yang disusun secara sistematis. “Kami menemukan rencana tertulis untuk memicu kerusuhan. Per jamnya sudah diatur! Kapan mereka mulai menyerang atau melakukan serbuan sudah ada dalam catatan hitam di atas putih,” tegas Iman.
Dokumen rahasia itu juga dengan gamblang mencantumkan titik kumpul rahasia, pola kedatangan kelompok secara sporadis agar tidak mencurigakan, hingga jalur pelarian yang akan mereka lintasi setelah kerusuhan terjadi.
“Jadi semuanya sudah terpetakan. Dari mana mereka berasal, bagaimana skenario kejadiannya, lalu harus kembali ke mana. Titik-titik kumpul sudah ditentukan. Alur datang dan kabur pun tergambar rapi. Mereka mempersiapkan ini dengan sangat matang, seperti operasi intelijen sungguhan,” tambah Iman.
Motif Bejat: Bukan Sekadar Rusuh, Tapi Adu Domba Buruh!
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menduga motif kelompok ini lebih jahat dari sekadar merusak fasilitas umum. Polda Metro Jaya menduga ada rencana untuk memicu bentrokan internal di antara massa aksi dengan cara mengadu domba sesama elemen buruh.
“Dalam pembicaraan internal mereka, terungkap fakta mengejutkan. Mereka merencanakan untuk mengadu domba antar serikat buruh. Caranya? Dengan menyusup dan memprovokasi saat kegiatan sedang berlangsung,” tutur Iman.
Polisi meyakini, kelompok tersebut menyusup dan memicu kekacauan dari dalam dengan harapan kericuhan akan meluas. Target utamanya adalah perusakan fasilitas publik, sehingga citra aksi buruh secara keseluruhan menjadi buruk.
Bukan Warga Jakarta! Mayoritas Pendatang dari Luar Ibu Kota
Data kepolisian menunjukkan fakta menarik lainnya. Mayoritas dari 101 orang yang diamankan ternyata bukan berasal dari Jakarta. Mereka adalah warga pendatang yang berusia produktif, sekitar 20 hingga 35 tahun. Yang lebih menarik, mereka datang ke ibu kota secara terpencar-pencar, bukan dalam satu rombongan besar.
“Keterangan awal menyebutkan mereka merupakan kelompok-kelompok parsial. Mereka datang secara sporadis, satu per satu, lalu berkumpul di titik yang sudah ditentukan,” ucap Iman.
Meskipun demikian, polisi belum bisa memastikan apakah kelompok ini terstruktur secara formal atau memiliki pelatihan khusus layaknya aparat. Saat ini, fokus penyelidikan diarahkan untuk mengungkap siapa dalang intelektual di balik layar dan dari mana sumber pendanaan operasi ini.
“Terkait dengan tokoh intelektual atau otak di balik kejadian ini, kami tidak akan berhenti di sini. Pendalaman akan terus dilakukan. Kami juga akan mengusut tuntas sumber pendanaannya,” janji Iman.
Hingga berita ini diturunkan, kesemua 101 orang tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolda Metro Jaya. Di sisi lain, polisi juga telah berkoordinasi dengan keluarga para pria yang diamankan. Sebagai bentuk transparansi, komunikasi juga telah dijalin dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
“Kami sudah dihubungi oleh YLBHI dan kami pun berkoordinasi untuk menjamin hak-hak mereka. Kami pastikan hak asasi manusia dari para terduga ini tetap terjaga dengan baik,” tutup Kombes Iman mewakili Polda Metro Jaya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











