Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Serikat Pekerja Jombang Desak PT SGS Hentikan PHK dan Buka Dialog Soal Tenaga Outsourcing

JOMBANG, Cinta-news.com – Pabrik kayu lapis raksasa di Jombang, Jawa Timur, sedang bergolak! Rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap seribu karyawan PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) yang berlokasi di Kecamatan Diwek menuai protes keras. Para buruh mempertanyakan langkah perusahaan di tengah kabar adanya pekerja outsourcing baru yang justru masuk ke pabrik.

Kecurigaan Menguat Saat PHK Massal dan Rekrutmen Outsourcing Berjalan Bersamaan

Ketua Serikat Buruh Plywood Jombang (SBPJ), Hadi Purnomo, mengungkapkan keprihatinannya atas situasi yang semakin membingungkan ini. Pihaknya menerima laporan mengejutkan mengenai kehadiran pekerja outsourcing yang diduga akan mengisi posisi karyawan tetap yang terkena dampak PHK.

“Kami menerima laporan adanya pekerja outsourcing yang masuk menggantikan posisi karyawan tetap yang terdampak PHK. Pertanyaan besar bagi kami, mengapa perusahaan merekrut pekerja baru saat sedang merumahkan ribuan karyawannya?” ujar Hadi dengan nada penasaran seusai mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Jombang dan manajemen PT SGS, Senin (15/6/2026).

Tak main-main, SBPJ langsung mendesak perusahaan untuk menghentikan sementara proses PHK dan membuka ruang dialog yang lebih luas dengan manajemen pusat. Mereka ingin kejelasan mengenai alasan di balik kebijakan kontroversial ini.

Alasan Efisiensi Dianggap Tidak Masuk Akal

Menurut Hadi, alasan perusahaan yang mengklaim melakukan efisiensi justru terlihat janggal dan tidak rasional. Bagaimana mungkin perusahaan berdalih mengurangi jumlah karyawan untuk efisiensi, tetapi di sisi lain mereka membuka pintu bagi pekerja baru melalui skema outsourcing?

“Alasan perusahaan melakukan efisiensi itu tidak rasional. Di satu sisi mereka ingin merumahkan ribuan karyawan, namun di saat yang sama perusahaan justru melakukan rekrutmen karyawan baru melalui skema outsourcing,” tegasnya saat diwawancarai pada Kamis (11/6/2026).

Situasi ini tentu membuat para pekerja semakin resah dan bertanya-tanya. Hadi mengakui bahwa banyak buruh yang terkejut dan syok setelah menerima informasi mendadak dari manajemen mengenai rencana pengurangan tenaga kerja yang mengancam nasib mereka.

“Teman-teman syok saat mengetahui informasi dari manajemen. Jelas syok, karena sebelum-sebelumnya tidak ada pemberitahuan. Tiba-tiba ada pengumuman seperti itu tanpa persiapan mental sama sekali,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Yang lebih mengejutkan, pengumuman tersebut disampaikan secara langsung oleh manajemen pusat dengan mengumpulkan seluruh pekerja di halaman pabrik. Tidak ada pemberitahuan tertulis secara individual yang diberikan kepada masing-masing karyawan. Setelah pengumuman itu, manajemen mulai memanggil karyawan secara bertahap untuk proses selanjutnya.

Hingga saat ini, pengaduan yang masuk ke SBPJ dari karyawan yang terkena dampak sudah mencapai 300 orang. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring berjalannya proses PHK.

Manajemen Mengaku Dalam Tekanan Bisnis yang Berat

Di sisi lain, HR Manager PT SGS Jombang, Taufik Rizal Sutisna, memberikan penjelasan mengenai kondisi perusahaan yang sedang tertekan. Menurutnya, sekitar 60 persen dari total karyawan berpotensi terkena dampak PHK massal ini.

Keputusan berat ini diambil setelah perusahaan menghadapi penurunan kinerja yang signifikan. Penyebab utamanya adalah merosotnya permintaan pasar dan ketidakpastian ekonomi global yang semakin tidak menentu.

Ternyata, ini bukan pertama kalinya PT SGS melakukan pengurangan tenaga kerja. Sebelum rencana PHK kali ini, perusahaan telah dua kali melakukan pemutusan hubungan kerja, yakni pada akhir tahun 2025 dan menjelang Hari Raya Idulfitri tahun 2026.

Taufik menjelaskan bahwa Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu pasar utama produk PT SGS mengalami perlambatan di sektor properti. Kondisi ini tentu berdampak langsung pada penurunan permintaan produk kayu lapis yang dihasilkan perusahaan.

Lebih parahnya lagi, perusahaan mengaku terus mengalami kerugian dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu kerugian terbesar terjadi pada tahun 2022 yang mencapai sekitar Rp 15 miliar. Secara keseluruhan, total kerugian yang dialami perusahaan mencapai angka fantastis sekitar Rp 100 miliar per tahun!

Kebutuhan Dana Pesangon Menggunung, Perusahaan Siapkan Rp 50 Miliar

Taufik menekankan bahwa PHK merupakan keputusan yang sangat berat dan tidak diinginkan oleh siapa pun. “Karyawan kehilangan sumber penghasilan, sementara perusahaan juga harus menyiapkan kompensasi dalam jumlah besar,” ujarnya dengan nada serius.

Perusahaan memperkirakan kebutuhan dana pesangon dan hak-hak pekerja lainnya mencapai sekitar Rp 50 miliar untuk hampir 1.000 karyawan yang terkena dampak. Jumlah ini tentu menjadi beban berat bagi perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan.

Meskipun berbagai upaya efisiensi telah dilakukan untuk menghindari PHK, namun kondisi usaha yang terus memburuk membuat pengurangan tenaga kerja menjadi pilihan terakhir yang harus diambil.

“Keputusan ini murni didasarkan pada menurunnya permintaan produk dan kondisi bisnis yang semakin berat. Jika tidak dilakukan langkah efisiensi, perusahaan berisiko tidak dapat melanjutkan usahanya,” tukas Taufik dengan nada penuh penyesalan.

Nasib 1.000 Karyawan di Ujung Tanduk

Situasi yang terjadi di PT SGS ini menjadi cerminan betapa kerasnya dunia industri saat ini. Di satu sisi, perusahaan berusaha bertahan di tengah badai ekonomi global yang menerpa, namun di sisi lain, ribuan karyawan harus kehilangan mata pencaharian mereka.

Pertanyaan besar yang masih menggantung adalah, apakah benar perusahaan akan mengganti posisi karyawan tetap yang di-PHK dengan pekerja outsourcing yang dibayar lebih murah? Ataukah ada skenario lain yang sedang direncanakan oleh manajemen?

SBPJ berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Mereka akan memastikan bahwa hak-hak pekerja tetap terpenuhi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sementara itu, para pekerja yang terancam PHK kini hanya bisa berpasrah dan menunggu kepastian nasib mereka. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai mencari peluang pekerjaan baru untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Apakah PT SGS akan tetap melanjutkan rencana PHK massal ini? Ataukah ada kebijakan baru yang akan diambil setelah mendengar aspirasi serikat buruh? Kita tunggu perkembangan selanjutnya dari kasus yang menggemparkan Jombang ini.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version